Marine Protected Area Form

Data Kawasan Konservasi

  • 75
  • Nusa Tenggara Timur
  • Marine National Park (MMAF) Laut Sawu
  • Taman Nasional Perairan
  • 3,521,130.01
  • II
  • 0
  • 0
  • images/FotoKawasan/Sawu1.jpg
  • Perairan Laut Sawu memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat melimpah. Lebih dari itu, periran ini menjadi lintasan berbagai biota laut yang dilindungi. Karena keunikan tersebut, maka kawasan perairan Laut Sawu dan sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai Taman Nasional Perairan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep.38 Tahun 2009 yang ditandatangani tanggal 8 Mei 2009.

  • Secara geografis, Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu terletak pada posisi geografis 118054'54,44" - 124023'17,089" E dan 8045049,964' - 1109043,919' S memiliki luas kawasan sekitar 3.500.000 Ha. Kawasan ini berada pada ekoregion Sunda Kecil, yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu, kawasan ini terdiri dari dua wilayah perairan, yaitu : (1) wilayah perairan Selat Sumba dan sekitarnya seluas 567.170 Ha, meliputi Kabupaten Sumba, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai, dan Manggarai Barat; dan (2) wilayah perairan Timor-Rote-Sabu-Batek seluas 2,95 juta ha, meliputi Kabupaten Sumba Timur, Rote Ndao, Kupang, Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang.

  • Hasil pengamatan Kahn (2005) terhadap paus sepanjang tahun 2001-2005 di perairan Pulau Solor dan Pulau Alor, mengungkapkan bahwa beberapa jenis paus telah "menetap" di Laut Sawu, antara lain : paus sperma (sperm whale), paus pembunuh kerdil (pigmy killer whale), paus kepala semangka (melon headed whale), lumba-lumba paruh panjang (spinner dolphin), lumba-lumba totol (pan-tropical spotted dolphin), lumba-lumba gigi kasar (rough-toothed dolphin), lumba-lumba abu-abu (risso's dolphin), dan lumba-lumba Fraser (Fraser's dolphin). Khan juga mengungkapkan bahwa paus tersebut meskipun bermigrasi namun paus tetap kembali ke Laut Sawu dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Laut Sawu merupakan habitat paus.
    Selain paus, lumba-lumba juga sering ditemukan. Namun demikian, jumlah lumba-lumba lebih banyak dibanding ikan paus. Pada saat musim, jumlah paus yang dapat dilihat sekitar 30 ekor sedangkan ikan lumba-lumba sekitar 100 s/d 200 ekor. Jenis lumba-lumba tersebut adalah Temu Bele (Common dolphin), Temu Noteng (Spinner dolphin), Temu K Bong, dan Temu Kire (Risso's dolphin). Sementara jenis penyu yang sering ditemukan adalah penyu Mobbo (hitam bintik putih, kulit halus dan tipis) dan Kea (Kulit merah, hitam).
    Biota peruaya lainnya seperti penyu juga mendiami di beberapa pulau sekitar Laut Sawu. Hal ini terlihat pada saat survei, kulit penyu dan cangkang telurnya banyak ditemukan di Pulau Batek. Beberapa jenis penyu, seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan penyu belimbing (Demochelys coriacea). Selain itu, Petsoede (2002) menemukan 14 spesies setasea, diantaranya yaitu blue whale (Balaenoptera musculus), pygmy killer whale (Feresa attenuate), short-finned pilot whale (Globicephala macrohynchus), risso's dolphin (Grampus griseus), sperm whale (Physeter macrocephalus), pantropical spotted dolphin (Stenella attenuate), spiner dolphin (Stenella longirostris), sough-toothed dolphin (Steno bredanensis), dan bottlenose dolphin (Tursiops truncates).

  • Total penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 4.448.873 jiwa dengan kepadatan penduduk 93,96 jiwa per km2, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,79 persen per tahun (BPS Provinsi NTT, 2008). Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu memiliki cakupan 151 desa pesisir (zona perairan Selat Sumba dan zona perairan pulau Timor-Rote-Sabu-Batek) dan 28 kecamatan.

  • Potensi lestari ikan pelagis di Laut Sawu sebesar 156.000 ton/tahun, dengan hasil tangkapan 65.331,5 ton (41,88 %), sementara penangkapan di perairan umum, potensi lestarinya mencapai 9.450 ton dengan hasil penangkapan 391 ton (4,14 %), dan potensi lestari jenis ikan demersal sebesar 84.000 ton/tahun dengan hasil penangkapan sebanyak 17.778,7 ton (21,17%). Sementara itu, produksi rumput laut pada tahun 2005 sebesar 891,4 ton, dan produksi budidaya tambak pada tahun 1998 mencapai 200,1 ton.

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan perairan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional adalah didasarkan pada keunikan biota laut yang terdapat di wilayah laut ini, seperti ditemukannya 500 jenis karang, 336 jenis ikan karang, 14 spesies setasea, dan 3 jenis penyu.

  • Potensi pariwisata Provinsi NTT meliputi pariwisata alami (bahari) maupun pariwisata budaya belum optimal dimanfaatkan. Potensi terumbu karang yang besar terbentang hampir disepanjang pantai utara Pulau Flores sampai Pulau Alor dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata bahari. Beberapa lokasi yang telah dikembangkan sebagai objek wisata bahari antara lain kawasan-kawasan Pulau Komodo, Riung, Maumere, Pulau Rote, Pulau Alor, perburuan ikan paus tradisional di Lembata dan Solor.

Find us on :

1275545
Today
Yesterday
This Week
This Month
Last Month
Alldays
1279
1526
6596
53902
66741
1275545

Your IP: 54.234.147.84
Server Time: 2014-07-30 20:10:18

In your opinion, how is the Indonesian fisheries potential condition today?

Abundant - 48%
Diminished - 36%
Exhausted - 8%
Don't know - 8%

Total votes: 25

Logo white