Dugong dan Habitatnya Butuh Perhatian Mendesak

Simposium Dugong 2016 c1Dugong (Dugong dugon) merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan. Keberadaan dugong mempunyai korelasi yang kuat dengan keberadaan ekosistem lamun dan mempunyai penyebaran geografis yang cukup luas. Populasi dugong diperkirakan terus mengalami penurunan, termasuk di Indonesia yang disebabkan oleh kerusakan dan degradasi padang lamun serta kematian dugong akibat (bycatch) kegiatan perikanan dan perburuan oleh masyarakat.

Ancaman terhadap populasi dugong terus meningkat dan membutuhkan perhatian mendesak untuk sebuah upaya terpadu antara pihak yang terkait serta pendekatan model konservasinya. Data dan sejumlah informasi pendukung dibutuhkan sebagai landasan ilmiah untuk menetapkan arah kebijakan jangka panjang serta merumuskan pengelolaan dugong dan habitatnya di Indonesia," demikian disampaikan oleh Plh. Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Agus Dermawan, pada acara Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 dengan tema "Inisiatif Bersama untuk Pelestarian Populasi Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia",yang diprakarsai bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan WWF Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Upaya konservasi dugong dan habitatnya di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga didukung oleh sejumlah lembaga internasional, seperti United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerjasama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ) melalui program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP). DSCP merupakan program regional yang dilaksanakan di tujuh negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Mosambik, Madagaskar, Timor Leste dan Vanuatu. Selain konservasi dugong, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendorong daerah agar menginisiasi ekosistem padang lamun sebagai habitat kunci dugong untuk menjadi kawasan konservasi perairan daerah (KKPD).

Simposium Dugong 2016 b

Laju kerusakan lamun di Indonesia, khususnya padang lamun, juga berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman terhadap kepunahan dugong. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 31.000 km2. Namun data dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) menyatakan sejauh ini, baru 25.752 ha padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia. Besaran populasi dugong yang ada di perairan Indonesia sampai dengan saat ini juga belum dapat dipastikan karena masih terbatasnya survei dan kajian populasi yang telah dilakukan, sedangkan peristiwa keterdamparan dugong telah banyak tercatat di pelbagai lokasi pesisir nusantara.

Dirhamsyah, KepalaPusat P2O-LIPI mengatakan, "Kondisi habitat lamun sangat mempengaruhi keberadaan Dugong, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat tumbuhan lamun dapat berkembang. Habitat dugong sangat perlu dijaga agar tidak mengancam populasi mamalia laut ini. Kelestarian dugong sangat terkait erat dengan keberadaan padang lamun," ungkapnya. "Melihat fenomena penurunan populasi dugong di Indonesia, sangat diperlukan pertukaran data dan hasil kajian yang terkait dengan Dugong dan habitatnya. Selain itu, pertemuan antara perumus kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang memahami dugong dan habitat lamun sangat perlu dilakukan agar dapat menyusun rekomendasi penyelamatan populasi dugong dan habitat lamun," katanya.

Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan menyatakan, "Minimnya data dan informasi baik terhadap Dugong maupun habitatnya, menyebabkan keterbatasan dalam aksi konservasi terkait Dugong dan lamun di Indonesia". Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB menambahkan bahwa aksi konservasi terhadap dugong dan habitat lamun di Indonesia perlu dikaitkan dengan peran dan fungsi strategis lamun dalam menyediakan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Di sanalah, kita bisa berperan sebagai pionir serta menggagas aksi konservasi yang lebih komprehensif dengan melibatkan nelayan dan pemangku kepentingan lain di kawasan pesisir, khususnya melalui Seagrass-Ecosystem Approach to Fisheries Management (Seagrass-EAFM)."

Forum yang dilangsungkan pada 20-21 April 2016 di IPB International Convention Center, Bogor, dibuka oleh Plh. Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Agus Dermawan. Turut hadir empat pembicara kunci yaitu Syamsul Bahri Lubis (Kasubdit Perlindungan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati, KKHL), Wawan Kiswara (P2O-LIPI), Anugrah Nontji (Pemerhati Konservasi Dugong), Prof. Deni Novinana (Fakultas Kedokteran Hewan-IPB). Selain empat makalah kunci yang mewakili topik simposium, untuk sesi paralel telah terseleksi 49 makalah dari 74 abstrak untuk dipaparkan dalam simposium. Empat topik makalah yang didiskusikan bersama para pembuat kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi, adalah (1) kelembagaan dan jejaring konservasi dugong-lamun, (2) biologi dan populasi dugong, (3) distribusi dan habitat pakan, serta(4) ancaman dan pemanfaatan berkelanjutan.

Pembicara kunci pada hari kedua adalah Dr. Kotaro Ichikawa, M.Sc sebagai peneliti bioakustik dari Universitas Kyoto Jepang, dan Dr. Himansu Sekhar Das yang dihadirkan melalui telekonferensi sebagai salah satu IUCN-Sirenian Specialist yang berbasis di Abu Dhabi. Di hari kedua turut hadir berbagai perwakilan instansi yaitu perwakilan universitas, UPT Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, DKP, Cetasi untuk bersama menyusun pedoman monitoring dan riset untuk dugong dan lamun.

Simposium Dugong 2016 a

You have no rights to post comments

5638600
Today
Yesterday
This Week
This Month
Last Month
Alldays
379
11220
20586
102687
157961
5638600

Your IP: 54.198.221.13
Server Time: 2017-11-22 02:01:21

 

Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com