Populasi Hiu Paus di Perairan Talisayan Teridentifikasi Bertambah

Oceantag 2Jakarta (29/08) –Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak kembali melakukan Survei dan Monitoring Populasi Hiu paus (Rhincodon typus) di Perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur pada tanggal 19 s.d 25 Agustus 2015. Survei dan monitoring ke-2 ini dilakukan BPSPL Pontianak bekerjasama dengan Departemen ITK Institut Pertanian Bogor, FPIK Universitas Mulawarman, CI Indonesia, WWF Indonesiadan Whale Shark Indonesia yang didampingi oleh Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Berau. Aktifitas survey meliputi pengambilan Photo ID, Pemasangan RFID, pemasangan satelit tag dan pengamatan tingkah laku hiu paus di perairan Talisayan Kabupaten Berau.

 

Kepala BPSPL Pontianak, Suko Wardono mengatakan "Survei dan monitoring potensi hiu paus ini dilakukan untuk mendukung pengelolaan dan konservasi hiu paus di Indonesia khususnya di wilayah kerja BPSPL Pontianak, serta sebagai tindak lanjut dari survei dan monitoring pertama yang sudah dilakukan tahun 2014". Selain itu, minimnya informasi terkait hiu paus yang merupakan jenis ikan dilindungi di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013, membuat penelitian ini menjadi cukup penting dalam mengembangkan baseline data dan mengetahui status populasi hiu paus terkini, ungkap Suko.

Hasil survei yang dilakukan selama 5 hari ini menunjukkan adanya penambahan jumlah individu hiu paus di perairan Talisayan. Pada survey perdana tahun 2014, teridentifikasi hiu paus berjumlah 10 ekor yang terdiri dari 9 ekor jantan dan 1 ekor betina (baca : http://www.wwf.or.id/?35383/10-Ekor-Individu-Baru-Hiu-Paus-Diidentifikasi-di-Perairan-Talisayan). Sedangkan pada survey ke-2 ini dijumpai 17 individu baru yang terdiri dari 16 ekor jantan dan 1 ekor betina. Dengan demikian, populasi hiu paus di Talisayan teridentifikasi berjumlah 27 ekor.

Koordinator tim Survei hiu paus dari Satker Balikpapan, BPSPL Pontianak A. Muh Ishak Yusma, menjelaskan bahwa "Temuan individu baru hiu paus di perairan Talisayan yang teridentifikasi tahun ini bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Dimana tahun ini ditemukan 16 ekor jantan dan 1 ekor betina individu baru. Total individu yang sudah teridentifikasi sampai saat ini berjumlah 27 ekor dengan seks rasio 25 jantan dan2 betina yang berukuran antara 3 sampai 7 meter".

Casandra Tania, peneliti dari WWF Indonesia menjelaskan bahwa "metode yang digunakan untuk mengetahui perbedaan tiap individu hiu paus pada survei ini adalah menggunakan teknik Photo Identification (Photo ID). Hasil photo ID yang dikumpulkan dianalisis berdasarkan polat otol-toto lputih yang unik dan tidak pernah berubah seperti sidik jari".Dua ekor jantan dan satu ekor betina yang sebelumnya ditemukan tahun 2014 kembali teridentifikasi pada tahun ini. Hal ini mengindikasikan bahwa perairan Talisayan merupakan salah satu habitat penting yang menyebabkan hiu paus cenderung selalu kembali meskipun telah melakukan migrasi,urai Casandra.

Untuk mengetahui pola migrasi atau pergerakan hiu paus di Perairan Talisayan diperlukan pemantauan intensif dengan menggunakan teknologi via satelit. Abraham Sianipar, peniliti dari CI Indonesia menjelaskan bahwa data migrasi atau pergerakan horizontal maupun vertikal hiu paus menjadi penting untuk menjadi dasar pengelolaan, terutama bagi individu betina yang masih sangat jarang ditemukan di Indonesia. "Oleh karenanya, dalam survei ini satu ekor betina yang terdentifikasi sebagai individu baru telah dipasang penanda satelit (satellite tag). Hasilnya akan dipantau jarak jauh melalui signal yang dikirimkan oleh satelit tag untuk dianalisis lebih lanjut", tambah Abam.

Selain Photo ID dan penandaan satelit, untuk mengidentifikasi individu hiu paus juga dilakukan pemasangan Radio Frequency Identification (RFID) yang berfungsi sebagai penanda permanen pada 3 ekor hiu paus jantan. Oceantag yang merupakan alat scanner RFID yang telah dikembangkan oleh IPB dan WWF-Indonesia juga digunakan untuk memindai RFID yang dapat membantu untuk melakukan identifikasi secara teliti dan efisien. Pemasangan RFID Berbasis Mikrokontroler ini sebelumnya sudah dilakukan di Teluk Cendrawasih. PenelitI hiu paus dari IPB, Hawis Madduppa mengatakan, "Teknik ini merupakan teknik pelengkap dari Photo ID. Penggunaan scanner RFID sebagai penanda individu, dengan tambahan tanggal dan jam, memudahkan untuk perhitungan kemunculan individu yang berbeda di suatu wilayah."

Lebih lanjut, hasil pemasangan RFID ini juga akan terus dipantau oleh tim Whale Shark Indonesia. Tim Whale Shark Indonesia yang melakukan studi di 4 lokasi berbeda di Indonesia masih akan terus melakukan pengumpulan data di Perairan Talisayan sampai dengan Oktober 2015. Pengamatan berikutnya masih memungkinkan perjumpaan terhadap individu baru. "Individu hiu paus baru di Talisayan masih mungkin bertambah, baik dari jenis kelamin jantan maupun betina seiring dengan bertambahnya waktu pengamatan", ungkap Mahardika Rizqi Hilmawan, Project Leader Whale Shark Indonesia. "Melihat besarnya populasi hiu paus di Talisayan menjadi peluang baik dalam pengembangan ekowisata, namun perlu disertai pengelolaan yang tetap memperhatikan kesejahteraan hewan (animal welfare) dan konsep yang lestari. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar acuan bagi pemerintah dalam pengelolaan kawasandan konservasi hiu paus di Talisayan", tambahnya.

Kabid Sumberdaya Kelautan dan Perikanan - DKP Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan "Harapan Pemerintah Daerah dari hasil penelitian yang dilakukan secara kolaborasi ini dapat dipergunakan sebagai indikator sebelum menetapkan Talisayan sebagai destinasi wisata di Kabupaten Berau". Hiu paus dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata karena sifatnya yang cenderung bersahabat kepada nelayan, penyelam atau pun wisatawan. Sementara itu, regulasi kepariwisataan seperti aturan berinteraksi dengan hiu paus perlu disiapkan dan disosialisasikan agar kedepan pariwisata yang berkembang tidak mengganggu keberadaan hiu paus di Talisayan, Ungkapnya.

Terkait Hiu Paus :

Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan ikan terbesar di dunia, diduga ukurannya dapat mencapai 18 – 22 m dengan karakteristik biologi yakni pertumbuhandan proses kematangan seksual lambat, serta berumur panjang. Walaupun ukuran tubuhnya besar, masih banyak hal yang tidak diketahui dari ikan karismatik yang sering menjadi target kunjungan wisata ini. Hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan PenuhIkan Hiu Paus, namun masih terbuka peluang bagi sumber peningkatan ekonomi masyarakat, di antaranya melalui atraksi wisata yang mengedepankan keselamatan manusia dan satwa.

Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa hiu paus di perairan Talisayan sering muncul di sekitar bagan terutama saat bulan gelap pada saat musim selatan. Bagan merupakan metode perikanan tangkap yang menangkap ikan-ikan pelagis kecil yang juga merupakan makanan hiu paus. Kebiasaan nelayan bagan membuang ikan yang bukan target (terutama ikan tembang) menyebabkan hiu paus tertarik dan muncul di sekitar bagan. Nelayan setempat percaya bahwa kemunculan hiu paus yang biasa disebut dengan Labetti (Si Bintik) oleh nelayan Talisayan ini membawa nasib baik karena biasanya kemunculan hiu paus diikuti dengan hasil tangkapan yang banyak.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

• A.Muh. Ishak Yusma, Kepala Satker Balikpapan, BPSPL Pontianak
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. , hp : +628124233 979
• Casandra Tania, Marine Species Officer WWF Indonesia
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. , hp : +62811 8898075, +62811 8898075
• Dwi Suprapti, Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. , hp : +628123655906

 

Hiu Paus Kaltim5

Aktifitas pendataan Photo ID pada kegiatan survei Hiu paus di perairan Talisayan

 

Hiu Paus Kaltim Tim Survey2

Tim Survei dan Monitoring Potensi Hiu Paus di Perairan Talisayan

 

Foto - foto lengkap Survei dan Monitoring Hiu Paus di Perairan Talisayan

 

 

 

 

You have no rights to post comments

5464118
Today
Yesterday
This Week
This Month
Last Month
Alldays
2433
2269
13701
86166
103562
5464118

Your IP: 54.166.203.76
Server Time: 2017-10-18 12:45:37

 

Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com