Anugerah E-KKP3K 2015

 

11 Desember 2015

 

Hotel DoubleTree by Hilton - Cikini, Jakarta

 

Video Anugerah E-KKP3K 2015

Panduan Anugerah E-KKP3K

Menteri Susi Berikan Anugerah E-KKP3K 2015

Jakarta, 11 Desember 2015. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan penghargaan kepada para kepala daerah pengelola kawasan konservasi atas kerja kerasnya dalam mendukung dan mengembangkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam acara bertajuk Anugerah E-KKP3K: Menuju Tata Kelola Kawasan Konservasi yang Efektif dan Menyejahterakan.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Raja Ampat menerima penghargaan Anugerah E-KKP3K untuk Kategori Favorit, sedangkan Kategori Khusus diraih oleh Walikota Sabang, Bupati Klungkung dan Walikota Pariaman. Sementara itu, 5 (lima) kepala daerah lain yakni Bupati Alor, Bupati Batang, Bupati Sukabumi, Bupati Berau dan Bupati Bintan menerima penghargaan Kategori Percontohan. 17 (tujuh belas) Kepala daerah lainnya memperoleh penghargaan Kategori Percepatan yakni Gubernur Sulawesi Tenggara, Bupati Simeuleu, Walikota Bontang, Bupati Sumbawa, Bupati Aceh jaya, Walikota Bitung, Bupati Sikka, Bupati Lombok Timur, Bupati Pesisir Selatan, Bupati Maluku Tenggara, Bupati Bantul, Bupati Flores Timur, Bupati Mentawai, Bupati Buleleng, Bupati Seram Bagian Timur, Bupati Sumbawa Barat dan Bupati Pangandaran.

 

foto anugerah ekkp3k 3

Sekretaris Jenderal KKP Sjarief Widjaja (keempat dari kiri) dan Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Agus Dermawan (Kanan) pada sesi foto bersama para penerima Anugerah E-KKP3K (Dok.SJI

 

Susi mengucapkan terimakasih atas komitmen pemerintah daerah untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. 110 kawasan berada dalam kewenangan pemerintah daerah, sisanya kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (10 kawasan), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (32 kawasan) yang paling lambat tahun ini akan diserahkan kewenangan pengelolaannya kepada KKP.


Sekilas Anugerah E-KKP3K
Anugerah E-KKP3K merupakan agenda dwi-tahunan yang dilaksanakan pertama kali pada tahun 2013 sebagai bentuk apresiasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan kepada para pihak, terutama para kepala daerah yang berprestasi mengembangkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil merujuk kepada Pedoman Teknis E-KKP3K yang sebelumnya telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada Tahun 2012. Perangkat evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi E-KKP3K merupakan acuan nasional untuk mengukur sejauh mana efektivitas pengelolaan sebuah kawasan konservasi telah berjalan. Tahun 2015 ini, acara puncak Anugerah E-KKP3K dilaksanakan di Kegiatan ini sejatinya merupakan tindak lanjut setelah sebelumnya pada Bulan Februari lalu pada acara lokakarya nasional pengelolaan kawasan konservasi Menteri Kelautan dan Perikanan telah meluncurkan secara resmi program tersebut. Kemudian ditindaklanjuti, tim evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi telah turun ke kawasan-kawasan konservasi dalam rangka mendapatkan informasi terkini tentang status pengelolaan efektif kawasan-kawasan tersebut. Evaluasi efektifitas pengelolaan telah dilakukan terhadap aspek-aspek antara lain aspek rencana pengelolaan dan zonasi, aspek kelembagaan, aspek pendanaan, pelibatan masyarakat, kemitraan dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut selanjutnya Anugerah E-KKP3K 2015 diberikan kepada 1 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Favorit, 5 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Percontohan, 17 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Percepatan, serta 3 kategori khusus. Selain itu, diberikan pula Anugerah E-KKP3K kategori mitra pendukung atas kontribusi dan partisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. 3 pemenang kategori khusus tersebut juga mendapatkan penghargaan Adibakti Mina Bahari. Bentuk apresiasi penghargaan E-KKP3K antara lain Penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prioritas akses dana pembinaan, Prioritas penguatan kelembagaan pengelola kawasan, serta Prioritas pendampingan pengelolaan kawasan konservasi melalui multi-mekanisme.


Apresiasi untuk Mitra Konservasi
Di samping diberikan kepada para kepala daerah, melalui kategori Mitra Pendukung, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam kerangka evaluasi E-KKP3K juga memberikan apresiasi kepada para pihak baik individu, organisasi tertentu maupun lembaga pemerintah yang dipandang telah berkontribusi terhadap pengembangan pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Concern para pihak terkait tersebut perlu untuk diapresiasi dalam rangka memotivasi stakeholder terkait untuk lebih mengembangkan tata kelola kawasan konservasi yang efektif dan menyejahterakan. Kontribusi nyata mereka terutama dalam upaya perlindungan dan pelestarian ekosistem kunci di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun, telah mengakselarasi peningkatan efektifitas pengelolaan perikanan berkelanjutan melalui paradigm konservasi. AKBP Moh Hidayat (Kapolres Pangkep), Benny Litelnony (Ketua Dewan Konservasi Perairan Provinsi NTT), Buyung Lalana (Komandan Korps Marinir TNI AL), Dr. Sudirman Saad, Marine Director TNC, Coraltriangle Director WWF, Marine Director CI, Director WCS IP, Marine Director Terangi, Marine Director RARE dan Marine Director CTC menerima penghargaan untuk kategori tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Sjarief Widjaja yang turut mendampingi Menteri Susi pada kesempatan tersebut menambahkan bahwa program apresiasi Anugerah E-KKP3K ini diharapkan bisa menjadi cambuk bagi para pengelola kawasan konservasi di Indonesia agar semakin giat dan kreatif mewujudkan pengelolaan kawasan yang efektif dan berkelanjutan. "Saya berharap kawasan konservasi prioritas dapat mencapai level emas pada tahun 2019" ungkap Sjarief. Tahun 2015 ini merupakan awal langkah baru kita dalam kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. "Upaya pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta program-program kementerian kelautan dan perikanan secara keseluruhan bermuara kepada aspek keberlanjutan (sustainability) yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan masyarakat, oleh sebab itu konservasi menjadi salah satu program prioritas kita dalam lima tahun ke depan" papar Sjarief.

 

Lampaui Target: 17 Juta Hektar Kawasan Konservasi
Hingga saat ini pencapaian luasan Kawasan Konservasi Indonesia mencapai 17,3 juta ha mendapat tambahan kinerja luas kawasan konservasi tahun 2015, seluas 815 ribu hektar. 110 kawasan berada dalam kewenangan pemerintah daerah, sisanya kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (10 kawasan), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (32 kawasan) yang paling lambat tahun ini akan diserahkan kewenangan pengelolaannya kepada KKP. Program Anugerah E-KKP3K 2015 ini merupakan aksi nyata Pemerintah Indonesia yang telah mendeklarasikan komitmen untuk membangun 20 juta ha Kawasan Konservasi tahun 2020 pada World Ocean Conference (WOC) enam tahun silam di Manado, Sulawesi Utara.
Dalam sambutannya, Menteri Susi menggarisbawahi bahwa target pencapaian luas kawasan konservasi perairan mutlak harus dibarengi dengan upaya pengelolaan efektif, melalui upaya pembinaan kawasan konservasi perairan daerah, pelatihan pengelolaan perikanan berkelanjutan, pengembangan wisata selam, bimbingan teknis pengelolaan kawasan, rehabilitasi habitat dan upaya lainnya yang terus perlu ditingkatkan. Anugerah E-KKP3K ini merupakan apresiasi sekaligus pendorong upaya pengelolaan kawasan konservasi Menteri Susi meyakini bahwa pembangunan ekonomi secara berkelanjutan hanya akan tercapai melalui integrasi dan harmonisasi antara pemanfaatan dan konservasi sumberdaya alam. Untuk itu, masih kata dia, investasi pembangunan di sektor kelautan dan perikanan harus mengarah pada kegiatan ekonomi ramah lingkungan, penggunaan sumberdaya alam secara efisien, namun dapat meningkatkan pendapatan lebih besar dan tidak merusak lingkungan. "Sistem ekonomi yang dijalankan harus dilandasi prinsip-prinsip efisiensi sumberdaya alam, sistem produksi tanpa limbah, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus isu-isu sosial", kata dia.


Paradigma Baru Konservasi
Ia menjelaskan bahwa paradigma pengelolaan kawasan konservasi saat ini telah berubah. Kawasan konservasi Indonesia dibangun melalui rekayasa pemanfaatan ruang dan penetapan batas-batas fungsional. "Zona perikanan berkelanjutan pada kawasan konservasi dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang mendukung ekonomi masyarakat, seperti wisata bahari, perikanan tangkap maupun budidaya perikanan sesuai kapasitas lingkungan. Hal ini tentunya dapat menghapus kekhawatiran akan berkurangnya akses nelayan di kawasan konservasi perairan" imbuh Susi.
Dalam hal kewenangan, pengelolaan kawasan konservasi juga tidak lagi menjadi monopoli pemerintah pusat. "Pemerintah daerah diberi kewenangan dalam mengelola kawasan konservasi di wilayahnya yang tentunya perlu disesuaikan dengan adanya resentralisasi pengelolaan kawasan konservasi dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah" imbuh Direktur Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati Laut yang hadir mendampingi Menteri Susi pada acara tersebut.


Kedaulatan dan Ketahanan Pangan
Acara juga dilengkapi dengan talkshow selama lebih kurang 90 menit bertajuk "Konservasi dan Kedaulatan di Laut Mendukung Ketahanan Pangan". Narasumber yang hadir antara lain: Prof. Hasjim Djalal (Pakar kelautan Internasional), Agus Dermawan, Direktur KKHL (mewakili Plt.Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut-Sjarief Widjaja), Lapis Silalahi (Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Brigjen TNI Mar Buyung Lalana (Komandan Korps Marinir), Brigjen TNI Gatot Triswanto (Wakil Asisten Panglima TNI) Wawan Ridwan (Direktur CTI-WWF), Laksdya (purn) Susanto (Badan Keamanan Laut) dan Prof Soelistiono (akademisi-IPB). Talkshow yang dipandu Tina Talisa ini telah memberikan gambaran umum bagaimana mengoptimalkan pengelolaan kawasan konservasi pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia dalam rangka mendukung kedaulatan maritim sekaligus ketahanan pangan. Pada sesi diskusi perbincangan yang mengemuka antara lain tentang IUU fishing yang banyak terjadi di wilayah perairan yang tidak dikelola atau tidak jelas siapa pengelolanya, termasuk di area perairan sekitar pulau-pulau kecil yang minim akses/tidak terjangkau (remote area). Padahal, di kawasan-kawasan semacam itu, potensi perikanan dan keanekaragaman hayati biasanya sangat tinggi. Ekosistem kunci wilayah pesisir seperti lamun, terumbu karang dan mangrove terpusat di kawasan tersebut. Dalam konteks dimaksud, sangat jelas bahwa kawasan konservasi dapat memainkan peran yang strategis dalam mendukung kedaulatan di laut. Bahkan pada sejumlah kasus, pengembangan kawasan konservasi laut di wilayah perbatasan sengaja dilakukan untuk memperkuat legitimasi kedaulatan nasional. Para narasumber juga sepakat bahwa persoalan kedaulatan dan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja melainkan merupakan tanggung jawab kolektif.

 

foto anugerah ekkp3k2

Tina Talisa memandu Talkshow bertajuk Konservasi dan Kedaulatan di Laut Mendukung Ketahanan Pangan

 

Jakarta, Desember 2015

Sekretaris Direktorat Jenderal

Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

 

Ir. Sri Atmini,M.Sc

 

 

 

Narasumber:

Ir. Agus Dermawan, M.Si Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (08158700095)

 

 

 

 

 

 

Pasca Penganugerahan E-KKP3K 2015, KKP Gelar Kunjungan Pembelajaran ke Buleleng

Anugerah E-KKP3K lanjutSebagai tindak lanjut pemberian apresiasi Anugerah E-KKP3K 2015 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan di Jakarta pada tanggal 11 Desember 2015 yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengajak serta para penerima apresiasi tersebut dalam kunjungan pembelajaran (excursion) pengelolaan kawasan konservasi perairan di Kabupaten Buleleng Provinsi Bali. Kabupaten Buleleng merupakan salah satu penerima Anugerah E-KKP3K kategori percepatan sekaligus penerima penghargaan Adibakti Mina Bahari kategori PUGAR yang pada kegiatan kali ini dipilih sebagai lokasi excursion. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pembelajaran pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, salah satunya dengan meninjau praktek pengelolaan kawasan konservasi dan aktifitas pengelolaan laut di Kab. Buleleng yang beberapa waktu lalu juga mendapat penghargaan dari Coral Reef Alliance di San Francisco Amerika Serikat atas upaya rehabilitasi karang melalui metode bio-rock.



Kunjungan pembelajaran ke Buleleng dilaksanakan selama 3 (tiga) hari pada tanggal 16-18 Desember 2015 dengan peserta meliputi penerima penghargaan Anugerah E-KKP3K 2015 Kategori Percontohan (Kabupaten Alor, Kabupaten Batang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Berau dan Kabupaten Bintan), Kategori Khusus (Kota Sabang, Kabupaten Klungkung, Kota Pariaman) dan Kategori Percepatan terpilih (Kabupaten Sikka, Kabupaten Bantul, Kabupaten Mentawai, Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Pangandaran) serta para pengelola kawasan konservasi wilayah COREMAP CTI (Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Lingga, Kota batam, kabupaten Natuna, kabupaten Pangkep, kabupaten Selayar, Kabupaten Buton, Kabupaten Biak dan Kabupaten Wakatobi). Di samping para peserta tersebut, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut juga mengggandeng serta para pewarta dari media cetak dan elektronik, diantaranya dari Tempo dan Media Indonesia, serta tidak ketinggalan runner-up Miss Scuba Indonesia (runner-up) ikut serta.
Kegiatan diisi antara lain dengan diskusi pengelolaan kawasan konservasi perairan Kabupaten Buleleng bersama masyarakat lokal Desa Les untuk mendengar secara langsung peran serta, pelibatan dan kontribusi masyarakat dalam operasional pengelolaan kawasan konservasi di wilayah tersebut. Agenda penting lainnya yakni peninjauan Font Box dan Multi Purpose Floating Shelter/MPFS yang merupakan output dari fasilitasi kegiatan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati laut tahun 2015 dalam rangka mendorong efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Buleleng. Kunjungan pembelajaran juga diisi dengan diskusi pembelajaran bersama dengan kelompok Masyarakat Garam UYAH yang beberapa waktu lalu memperoleh penghargaan Adibakti Mina Bahari dari Menteri Kelautan dan Perikanan. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapat memperoleh gambaran umum praktek pengelolaan kawasan konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

 


Anugerah E-KKP3K 2015
Sebelumnya, pada tanggal 11 Desember 2015 di Jakarta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan penghargaan kepada para kepala daerah pengelola kawasan konservasi atas kerja kerasnya dalam mendukung dan mengembangkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam acara bertajuk Anugerah E-KKP3K: Menuju Tata Kelola Kawasan Konservasi yang Efektif dan Menyejahterakan. Pemberian Penghargaan diwakili oleh Sekjen KKP Sjarief Widjaja, dilaksanakan di Double Tree by Hilton Hotel, Jakarta 11 Desember 2015.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Raja Ampat menerima penghargaan Anugerah E-KKP3K untuk Kategori Favorit, sedangkan Kategori Khusus diraih oleh Walikota Sabang, Bupati Klungkung dan Walikota Pariaman. kategori khusus juga merupakan penerima Adi bakti Minabahari 2015 kategori E-KKP3K. Sementara itu, 5 (lima) kepala daerah lain yakni Bupati Alor, Bupati Batang, Bupati Sukabumi, Bupati Berau dan Bupati Bintan menerima penghargaan Kategori Percontohan. 17 (tujuh belas) Kepala daerah lainnya memperoleh penghargaan Kategori Percepatan yakni Gubernur Sulawesi Tenggara, Bupati Simeuleu, Walikota Bontang, Bupati Sumbawa, Bupati Aceh jaya, Walikota Bitung, Bupati Sikka, Bupati Lombok Timur, Bupati Pesisir Selatan, Bupati Maluku Tenggara, Bupati Bantul, Bupati Flores Timur, Bupati Kep. Mentawai, Bupati Buleleng, Bupati Seram Bagian Timur, Bupati Sumbawa Barat dan Bupati Pangandaran.
Di samping diberikan kepada para kepala daerah, melalui kategori Mitra Pendukung, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam kerangka evaluasi E-KKP3K juga memberikan apresiasi kepada para pihak baik individu, organisasi tertentu maupun lembaga pemerintah yang dipandang telah berkontribusi terhadap pengembangan pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Concern para pihak terkait tersebut perlu untuk diapresiasi dalam rangka memotivasi stakeholder terkait untuk lebih mengembangkan tata kelola kawasan konservasi yang efektif dan menyejahterakan. Kontribusi nyata mereka terutama dalam upaya perlindungan dan pelestarian ekosistem kunci di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun, telah mengakselarasi peningkatan efektifitas pengelolaan perikanan berkelanjutan melalui paradigm konservasi. AKBP Moh Hidayat (Kapolres Pangkep), Benny Litelnony (Ketua Dewan Konservasi Perairan Provinsi NTT), Buyung Lalana (Komandan Korps Marinir TNI AL), Dr. Sudirman Saad, Marine Director TNC, Coraltriangle Director WWF, Marine Director CI, Director WCS IP, Marine Director Terangi, Marine Director RARE dan Marine Director CTC menerima penghargaan untuk kategori tersebut.
Acara juga dilengkapi dengan talkshow selama lebih kurang 90 menit bertajuk "Konservasi dan Kedaulatan di Laut Mendukung Ketahanan Pangan". Narasumber yang hadir antara lain: Prof. Hasjim Djalal (Pakar kelautan Internasional), Agus Dermawan, Direktur KKHL (mewakili Plt.Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut-Sjarief Widjaja), Lapis Silalahi (Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Brigjen TNI Mar Buyung Lalana (Komandan Korps Marinir), Brigjen TNI Gatot Triswanto (Wakil Asisten Panglima TNI), Wawan Ridwan (Direktur CTI-WWF), Laksdya (purn) Susanto (Badan Keamanan Laut) dan Prof Soelistiono (akademisi-IPB). Talkshow yang dipandu Tina Talisa ini telah memberikan gambaran umum bagaimana mengoptimalkan pengelolaan kawasan konservasi pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia dalam rangka mendukung kedaulatan maritim sekaligus ketahanan pangan. Pada sesi diskusi perbincangan yang mengemuka antara lain tentang IUU fishing yang banyak terjadi di wilayah perairan yang tidak dikelola atau tidak jelas siapa pengelolanya, termasuk di area perairan sekitar pulau-pulau kecil yang minim akses/tidak terjangkau (remote area). Padahal, di kawasan-kawasan semacam itu, potensi perikanan dan keanekaragaman hayati biasanya sangat tinggi. Ekosistem kunci wilayah pesisir seperti lamun, terumbu karang dan mangrove terpusat di kawasan tersebut. Dalam konteks dimaksud, sangat jelas bahwa kawasan konservasi dapat memainkan peran yang strategis dalam mendukung kedaulatan di laut. Bahkan pada sejumlah kasus, pengembangan kawasan konservasi laut di wilayah perbatasan sengaja dilakukan untuk memperkuat legitimasi kedaulatan nasional. Para narasumber juga sepakat bahwa persoalan kedaulatan dan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja melainkan merupakan tanggung jawab kolektif.

 

foto anugerah ekkp3k 3

Sekretaris Jenderal KKP Sjarief Widjaja (keempat dari kiri) dan Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Agus Dermawan (Kanan) pada sesi foto bersama para penerima Anugerah E-KKP3K (Dok.Istimewa)

 

Pada kesempatan tersebut, Susi dalam catatan sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas komitmen pemerintah daerah untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. 110 kawasan berada dalam kewenangan pemerintah daerah, sisanya kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (10 kawasan), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (32 kawasan) yang paling lambat tahun ini akan diserahkan kewenangan pengelolaannya kepada KKP.
Anugerah E-KKP3K merupakan agenda dwi-tahunan yang dilaksanakan pertama kali pada tahun 2013 sebagai bentuk apresiasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan kepada para pihak, terutama para kepala daerah yang berprestasi mengembangkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil merujuk kepada Pedoman Teknis E-KKP3K yang sebelumnya telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada Tahun 2012. Perangkat evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi E-KKP3K merupakan acuan nasional untuk mengukur sejauh mana efektivitas pengelolaan sebuah kawasan konservasi telah berjalan. Tahun 2015 ini, acara puncak Anugerah E-KKP3K sejatinya merupakan tindak lanjut setelah sebelumnya pada Bulan Februari lalu pada acara lokakarya nasional pengelolaan kawasan konservasi Menteri Kelautan dan Perikanan telah meluncurkan secara resmi program tersebut. Kemudian ditindaklanjuti, tim evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi telah turun ke kawasan-kawasan konservasi dalam rangka mendapatkan informasi terkini tentang status pengelolaan efektif kawasan-kawasan tersebut. Evaluasi efektifitas pengelolaan telah dilakukan terhadap aspek-aspek antara lain aspek rencana pengelolaan dan zonasi, aspek kelembagaan, aspek pendanaan, pelibatan masyarakat, kemitraan dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut selanjutnya Anugerah E-KKP3K 2015 diberikan kepada 1 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Favorit, 5 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Percontohan, 17 daerah sebagai penerima apresiasi Kategori Percepatan, serta 3 kategori khusus. Selain itu, diberikan pula Anugerah E-KKP3K kategori mitra pendukung atas kontribusi dan partisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. 3 pemenang kategori khusus tersebut juga mendapatkan penghargaan Adibakti Mina Bahari. Bentuk apresiasi penghargaan E-KKP3K antara lain Penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prioritas akses dana pembinaan, Prioritas penguatan kelembagaan pengelola kawasan, serta Prioritas pendampingan pengelolaan kawasan konservasi melalui multi-mekanisme.


Apresiasi untuk Mitra Konservasi
Di samping diberikan kepada para kepala daerah, melalui kategori Mitra Pendukung, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam kerangka evaluasi E-KKP3K juga memberikan apresiasi kepada para pihak baik individu, organisasi tertentu maupun lembaga pemerintah yang dipandang telah berkontribusi terhadap pengembangan pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Concern para pihak terkait tersebut perlu untuk diapresiasi dalam rangka memotivasi stakeholder terkait untuk lebih mengembangkan tata kelola kawasan konservasi yang efektif dan menyejahterakan. Kontribusi nyata mereka terutama dalam upaya perlindungan dan pelestarian ekosistem kunci di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun, telah mengakselarasi peningkatan efektifitas pengelolaan perikanan berkelanjutan melalui paradigm konservasi. AKBP Moh Hidayat (Kapolres Pangkep), Benny Litelnony (Ketua Dewan Konservasi Perairan Provinsi NTT), Buyung Lalana (Komandan Korps Marinir TNI AL), Dr. Sudirman Saad, Marine Director TNC, Coraltriangle Director WWF, Marine Director CI, Director WCS IP, Marine Director Terangi, Marine Director RARE dan Marine Director CTC menerima penghargaan untuk kategori tersebut.


Lampaui Target: 17 Juta Hektar Kawasan Konservasi
Hingga saat ini pencapaian luasan Kawasan Konservasi Indonesia mencapai 17,3 juta ha mendapat tambahan kinerja luas kawasan konservasi tahun 2015, seluas 815 ribu hektar. 110 kawasan berada dalam kewenangan pemerintah daerah, sisanya kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (10 kawasan), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (32 kawasan) yang paling lambat tahun ini akan diserahkan kewenangan pengelolaannya kepada KKP. Program Anugerah E-KKP3K 2015 ini merupakan aksi nyata Pemerintah Indonesia yang telah mendeklarasikan komitmen untuk membangun 20 juta ha Kawasan Konservasi tahun 2020 pada World Ocean Conference (WOC) enam tahun silam di Manado, Sulawesi Utara.


Paradigma Baru Konservasi
Penting untuk digarisbawahi bahwa paradigma pengelolaan kawasan konservasi saat ini telah berubah. Kawasan konservasi Indonesia dibangun melalui rekayasa pemanfaatan ruang dan penetapan batas-batas fungsional. Zona perikanan berkelanjutan pada kawasan konservasi dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang mendukung ekonomi masyarakat, seperti wisata bahari, perikanan tangkap maupun budidaya perikanan sesuai kapasitas lingkungan. Hal ini tentunya dapat menghapus kekhawatiran akan berkurangnya akses nelayan di kawasan konservasi perairan. Dalam hal kewenangan, pengelolaan kawasan konservasi juga tidak lagi menjadi monopoli pemerintah pusat. Pemerintah daerah diberi kewenangan dalam mengelola kawasan konservasi di wilayahnya yang tentunya perlu disesuaikan dengan adanya resentralisasi pengelolaan kawasan konservasi dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

 

 

 

Anugerah E-KKP3K Tahun 2015

ANUGERAH  E-KKP3K  2015

 

Anugerah E-KKP3K merupakan bentuk apresiasi terhadap upaya pengelolaan kawasan konservasi yang telah dilakukan. Penghargaan yang diberikan kepada pemerintah daerah/kepala daerah/pengelola KKP3K yang konsisten mengembangkan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil. Anugerah E-KKP3K secara tersendiri ataupun menjadi satu kesatuan dengan program lainnya merupakan pemberian penghargaan yang sekaligus menjadi media fasilitasi untuk mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil yang efektif. Representasi pengelolaan efektif kawasan juga ditunjukkan dengan upaya-upaya pengelolaan yang dilakukan berjalan dengan baik, semisal monitoring sumberdaya, koordinasi pengelolaan, rehabilitasi habitat dan populasi ikan, upaya perlindungan dan pelestarian kawasan, upaya pemanfaatan kawasan untuk kepentingan perikanan berkelanjutan dan ekowisata, peningkatan patisipasi dan kesadartahuan masyarakat, pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, jejaring pengelolaan kawasan konservasi, kemitraan, pengembangan strategi pendanaan berkelanjutan maunpun aspek-aspek lainnya. Adapun substansi materi evaluasi mencakup aspek-aspek tata kelola, konservasi/sumberdaya dan sosial-ekonomi budaya yang relevan dengan pengelolaan kawasan konservasi. Anugerah E-KKP3K (E-KKP3K Awards) diagendakan setiap 2 (dua) tahun sekali. Kegiatan Anugerah E-KKP3K diselenggarakan pertama kali pada tahun 2013, dan selanjutnya pada Renstra 2015-2019 akan dilaksanakan pada 2015, 2017 dan 2019.

Kementerian kelautan dan perikanan dengan bangga mempersembahkan Anugerah E-KKP3K 2015

 

Metode Evaluasi :

Evaluasi Berdasarkan Pedoman Teknis Evaluasi Evektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (E-KKP3K),17 (tujuh belas) kriteria umum dengan 74 kriteria rinci yang dilengkapi alat verifikasi.

 Kriteria evaluasi e-kkp3k

 

KRITERIA UMUM : (i) Kawasan konservasi telah dicadangkan oleh kepala daerah; (ii) Telah menjalankan upaya pokok-pokok pengelolaan kawasan konservasi; (iii) Memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan kawasan secara konsisten dan berkelanjutan; (iv) Memiliki poin penilaian terbaik berdasarkan standar penilaian pedoman E-KKP3K;

KRITERIA KHUSUS : Seluruh instrumen legislasi pengelolaan kawasan telah sesuai dengan peraturan-perundangan

URAIAN PENGHARGAAN: 1 (satu) penghargaan kategori favorit; 5 (lima) penghargaan kategori kawasan percontohan; 17 (tujuh belas) penghargaan kategori percepatan/perhatian khusus; dan Apresiasi Khusus kepada Pemerintah Daerah atas komitmen pengelolaan kawasan konservasi.

BENTUK APRESIASI: Penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prioritas akses dana pembinaan, Prioritas penguatan kelembagaan pengelola kawasan, Prioritas pendampingan pengelolaan kawasan konservasi melalui multi-mekanisme.

TIM PENILAI: Tim Independen (Ahli/Pakar); Dit. KKJI; Monev KP3K; Lembaga Pendidikan; Mitra KKP
Puncak Apresiasi Anugerah E-KKP3K 2015: November –Desember 2015

 

Penerima Anugerah 2013

 

Penerima Anugerah E-KKP3K (E-KKP3K Awards) 2013

Kategori Percontohan: Suaka Alam Perairan Pesisir Timur Pulau Weh Kota SABANG, Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Kabupaten SUKABUMI, Taman Pesisir Ujungnegoro-Roban Kabupaten BATANG, Taman Wisata Perairan Nusa Penida Kabupaten KLUNGKUNG, Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten ALOR, dan Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten RAJA AMPAT.

Kategori Khusus: Bupati Kepulauan Anambas.

Penyerahan penghargaan disampaikan oleh Menteri kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo.