www.dugongconservation.org

DSCP Indonesia1

Sebagai Bagian dari Upaya Konservasi Global untuk Melindungi dan Melestarikan Dugong dan Lamun, Kementerian Kelautan dan Perikanan Mengundang Publik untuk Berkontribusi terhadap Website Baru tentang Konservasi dari Dugong dan Lamun

 

 

Info grafis Website DSCP

 

Dalam rangka merayakan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei 2016, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berpartisipasi di dalam Proyek Global Konservasi Dugong dan Lamun mengumumkan peluncuran sebuah website konservasi dimana warga masyarakat dapat mempelajari lebih lanjut tentang dugong dan lamun, serta membantu menyelamatkan kedua jenis yang terancam ini. Website Proyek Konservasi Dugong dan Lamun yaitu www.dugongconservation.org memiliki informasi tentang dugong dan lamun dalam format interaktif dilengkapi dengan foto, video dan kegiatan media social. Situs ini menyediakan platform dimana masyarakat bisa terlibat dalam kegiatan konservasi kedua jenis penting ini.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Proyek Konservasi Dugong dan Seagrass (Dugong and Seagrass Conservation Project atau DSCP) yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan dikelola oleh Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund-Abu Dhabi (MbZ). Selain Indonesia, proyek ini mencakup delapan negara di Samudera Hindia dan sampai ke Pasifik Selatan, yaitu Mozambik, Madagaskar, Sri Lanka, Malaysia, Timor-Leste, Vanuatu dan Kepulauan Solomon. DSCP bekerja sama dengan mitra di negara-negara ini untuk melaksanakan 38 inisiatif konservasi yang dikelola secara lokal.
Di Indonesia, DSCP terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu Penguatan dan implementasi strategi kebijakan dan rencana aksi konservasi nasional dugong dan padang lamun (ID1); Peningkatan kesadaran dan konservasi nasional, serta upaya pemantauan populasi dan sebaran dugong dan padang lamun (ID2); konservasi dan pengelolaan dugong dan padang lamun yang berbasis masyarakat (ID3). Dalam tahun 2016 ini, pelaksanaan ID1 dan ID2 masih berjalan, sementara ID3 masih dalam tahap finalisasi. Beberapa lokasi yang potensial dijadikan project site ID3 teridentifikasi dalam Simposium Dugong dan Habitat Lamun pada April 2016 yang lalu, yaitu di antaranya Kabupaten Bintan-Kepulauan Riau, Kotawaringin Barat-Kalimantan Tengah, Kabupaten Alor-NTT, Kabupaten Tolitoli-Sulawesi Tengah. Di dalam mengimplementasikan ID1 dan ID2, Pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bekerja sama dengan LIPI, IPB dan WWF, serta tidak tertutup kemungkinan nantinya akan bekerja sama dengan mitra potensial lainnya. Total bantuan yang didapatkan Pemerintah Indonesia adalah sebesar US$ 829.353 selama 3 tahun ke depan. Pemerintah Indonesia bertujuan tidak hanya meningkatkan kesadaran dan pemahaman nasional, tetapi juga meningkatkan peluang kelangsungan hidup kedua jenis terancam ini di masa depan.
Ekosistem lamun dianggap sama pentingnya dengan ekosistem terumbu karang karena kedua ekosistem ini sangat penting bagi perikanan pesisir. Ekosistem lamun juga memainkan peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim, namun ekosistem ini berada di bawah tekanan akibat aktivitas manusia. Dugong adalah satu-satunya mamalia laut vegetarian di dunia dan sepenuhnya bergantung pada lamun untuk makanan. Ekosistem padang lamun dengan dugong merupakan indikator dari ekosistem yang sehat. Ekosistem lamun yang sehat memainkan peran penting dalam mengamankan kebutuhan makanan masyarakat pesisir dan jutaan para konsumen ikan, serta seafood secara global. Lamun juga melindungi pantai dari badai, meningkatkan kualitas air laut dan membantu mencegah perubahan percepatan iklim.
Dugong (Dugong dugon) terdaftar dalam IUCN Red List of Threatened Species (http://www.iucnredlist.org/details/6909/0) dengan kategori 'vulnerable' atau rentan terhadap kepunahan. Dugong dilindungi secara nasional melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.7 Tahun 1999 dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan. Populasi dugong diperkirakan terus mengalami penurunan di Indonesia yang disebabkan oleh adalah kerusakan dan degradasi padang lamun, polusi pantai yang berasal dari daratan maupun lautan, penangkapan ikan dengan metode yang destruktif, penangkapan dugong tidak sengaja (bycatch), akibat terdampar, perburuan oleh masyarakat lokal, dan tertabrak kapal. Padang lamun di Indonesia yang diestimasi memiliki luasan 3 juta ha, hingga saat ini baru seluas 25.742 ha yang telah divalidasi oleh P2O-LIPI dari 29 lokasi. Kondisi padang lamun di Indonesia didasarkan pada prosentase tutupan lamun dari 37 lokasi sampling, 5 lokasi berada pada kondisi tidak sehat/buruk, 27 pada kondisi kurang sehat dan 5 lokasi pada kondisi sehat. Dari segi kekayaan jenis, Indonesia tercatat memiliki 15 jenis lamun dari 70 jenis lamun dunia. Padang lamun memiliki ancaman lingkungan beragam terutama adalah dari manusia. Kurangnya pengetahuan warga pesisir akan manfaat lamun membuat mereka menganggap tumbuhan berbunga itu sebagai pengotor pantai. Makin parahnya pencemaran laut, khususnya akibat sampah plastik juga menutupi padang lamun sehingga membuat mereka sulit untuk berkembang. Kecepatan perubahan lingkungan itu tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan lamun, itu yang menjadi penyebab cepat rusaknya padang lamun
Masih banyak yang harus dipahami tentang dugong dan padang lamun di lokasi tertentu seperti Bintan, Kotawaringin Barat, Alor dan Tolitoli. Melalui upaya Pemerintah Indonesia ini gambaran yang lebih jelas akan muncul tentang keadaan terkini populasi dugong dan lamun di Indonesia, dan ancaman terhadap mereka. Masyarakat didorong untuk mempelajari lebih lanjut tentang upaya konservasi di Indonesia dan berpartisipasi dalam upaya konservasi ini dengan mengunjungi Website DSCP (www.dugongconservation.org) dan berpartisipasi dalam platform media website tersebut.