KKP Inisiasi Perlindungan Hiu Paus

Ikan hiu paus (Rhincodon typus)  atau dikenal juga dengan sebutan hiu totol atau hiu bodoh merupakan salah satu jenis ikan hiu terbesar di dunia. Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi dari ikan hiu paus, hal ini terbukti dengan seringnya jenis ikan ini ditemui dibeberapa wilayah perairan Indonesia seperti perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua. Sepanjang tahun ikan ini dapat ditemukan di sekitar Tanjung Kwatisore, Nabire Papua dengan jumlah populasi diperkirakan sekitar 27 – 41 ekor.

Penelitian mengenai jenis ikan hiu ini masih sangat minim dikarenakan sulitnya mempelajari siklus hidupnya yang cenderung migrator dan hidup soliter. Namun diperkirakan jumlahnya makin berkurang dikarenakan mudahnya ikan ini tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) oleh nelayan karena ukurannya yang besar dan gerakannya yang lambat. Saat ini ikan hiu paus masuk ke dalam Appendiks II CITES dan juga termasuk kedalam daftar merah IUCN dengan kategori Rentan (Vulnerable), karena memeliki karakter yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih.
Ikan hiu paus di Indonesia semakin terancam, banyak yang mati karena tertangkap oleh jaring nelayan, ataupun terdampar di perairan pesisir.  Sejak tahun 2002 s.d tahun 2010 tercatat 14 kejadian ikan hiu paus tertangkap oleh jaring nelayan, dengan jumlah sekitar 18 ekor, umumnya diambil siripnya atau dikonsumsi oleh masyarakat. Sampai dengan tahun 2010 tercatat sekitar 10 ekor ikan hiu paus  yang terdampar di perairan Indonesia, 5 ekor  dikonsumsi, sedangkan 5 ekor lainnya dikembalikan ke laut. Ikan hiu paus yang terdampar sebagian besar  tidak dilepaskan kembali ke perairan, sebagian dikonsumsi/dijual oleh masyarakat
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas untuk menghindari ancaman kepunahan ikan hiu paus di habitat alam dan menjaga keanekaragaman hayati jenis ikan di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam hal ini Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Ditjen KP3K menginisiasi untuk proses penetapan status perlindungan jenis ikan hiu paus sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per. 03/MEN/2010 Tentang Tata Cara Status Perlindungan Jenis Ikan. Usulan insiastif status perlindungan hiu paus telah disampaikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan pada pertengahan April 2012.
Kemudian saat ini sedang dilakukan verifikasi usulan melalui kegiatan Konsultasi Publik di daerah yang terdapat habitat atau ruaya hiu paus, Tujuan dilaksanakan konsultasi publik adalah: 1) sebagai bagian dari kegiatan verifikasi usulan inisiatif perlindungan Hiu Paus, 2) Untuk memperoleh data dan informasi langsung dari instansi/lembaga yang memiliki data dan informasi awal tentang jenis ikan yang akan dilindungi; 3) Untuk menjaring aspirasi langsung dari masyarakat dan pemangku kepentingan. konsultasi publik telah dilakukan di dua daerah, yakni pada awal bulan Mei di Provinsi Aceh, awal bulan juni di Provinsi NTT dan rencananya akhir juni ini akan dilakukan konsultasi public di Papua Barat dan Jakarta.

Ditulis Oleh :Prabowo

 

Anda tidak memiliki akses untuk komentar artikel. Silakan login untuk memberi komentar ...

8617606
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
4860
6341
29251
29251
153895
8617606

IP Anda: 18.207.238.169
Waktu Server: 2019-12-05 21:43:13

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com