DSCP Indonesia Gelar Pelatihan Metode Survei dan Pemantauan Dugong dan Lamun di Ogotua, Toli-toli, Sulawesi Tengah

Sebagai tindaklanjut pelaksanaan Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP), guna meningkatkan kesadaran nasional dan penelitian tentang dugong dan lamun di Indonesia (ID-2). DSCP Indonesia menggelar Pelatihan Metode Survei dan Pemantauan Dugong dan Lamun pada 3-5 Februari 2017 di Komplek Pelabuhan Perikanan Ogotua, Toli-toli, Sulawesi Tengah. Pelatihan ini diikuti oleh lebih kurang 40 peserta yang berasal dari perwakilan pemerintah daerah dan masyarakat dari 4 lokasi percontohan, yaitu Alor-Nusa Tenggara Timur, Kotawaringin Barat- Kalimantan Tengah, Bintan-Kepulauan Riau dan Toli-toli-Sulawesi Tengah, serta perwakilan dari Unit Pelaksana teknis Ditjen PRL Kementerian Kelautan dan perikanan, yakni Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan laut (BPSPL) Padang, Pontianak, Denpasar dan Makassar. Kegiatan ini merupakan seri lanjutan pelatihan serupa yang digelar pada tingkat nasional pada 30 Januari – 1 Februari 2017 di Jakarta

 dscp dugong1

 

dscp dugong2

Pembukaan ki-ka: Agus Sudaryanto (Kepala UPT Kelautan dan Pelabuhan Wilayah I, Dinas KP Sulteng); Gusman (Kepala Dinas Perikanan Kab. Toli-toli); Suraji (Kepala Seksi Pelestarian Keanekaragaman Hayati, Dit. KKHL-KKP),

foto: DSCP Indonesia/Sheyka N

 

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kelautan dan Pelabuhan Wilayah I – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi tengah, Agus Sudaryanto sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di kawasan pelabuhan perikanan Ogotua. "Kegiatan ini cukup besar dan sangat penting, kami sangat senang ini dapat terlaksana dengan baik dengan fasilitas pendukung yang ada. Semalam sebelum pembukaan ini kami telah berdiskusi banyak hal dengan Direktorat Konservasi kementerian kelautan dan perikanan, kami berharap fungsi kawasan ini dapat mengintegrasikan berbagai kegiatan termasuk mendukung upaya konservasi dugong dan lamun ini". Demikian disampaikan Agus di sela sambutannya. Ia juga berharap wilayahnya dapat dijadikan percontohan, semacam "Dugong Center" dan pihaknya siap bekerjasama untuk mewujudkan program ini berjalan sukses.

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, dalam sambutan yang disampaikan oleh Suraji (Kasi Pelestarian Keanekaragaman hayati) berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan di tingkat daerah dalam upaya konservasi dugong dan habitatnya, termasuk dalam implementasi kegiatan pemantauan berbasis masyarakat dan penanganan mamalia laut, khususnya dugong terdampar. Lebih lanjut, Ia berharap peserta pelatihan dapat menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada masyarakat di daerahnya masing-masing, sehingga semakin banyak masyarakat yang tahu dan peduli serta turut berperan aktif terhadap konservasi pelestarian dugong dan padang lamun.

 

dscp dugong3

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Toli-toli, Gusman (tengah) membuka secara resmi Pelatihan Metode Survei dan Monitoring Dugong dan Padang Lamun. foto: DSCP Indonesia/Sheyka N.

 

Acara secara resmi Dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Toli-toli, Agusman menyambut gembira toil-toli dijadikan tempat pelatihan dan pembelajaran bagi daerah lain dalam konservasi dugong dan padang lamun, seraya berharap koordinasi pelaksanaan kegiatan antara pusat-provinsi dan pihaknya (kabupaten) dapat terus ditingkatkan dimasa yang akan datang. Ia juga berharap agar rencana pusat konservasi dugong dan lamun dapat diwujudkan. Lokasi konservasi dugong di toil-toli sangat strategis berada di depan pulau Lingayan (salah satu pulau terdepan Indonesia). Hal ini akan berdampak baik bagi kelestarian dugong dan lamun serta perekonomian masyarakat toil-toli khususnya.
Secara terpisah Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Andi Rusandi berpesan agar peserta yang telah terlatih dapat membuat jejaring untuk konservasi dan pelestarian dugong dan lamun, yang akan menjadi salah satu pijakan kebijakan pemerintah ke depan.

 

dscp dugong4

Peserta Pelatihan. foto: Suraji

 

dscp dugong5

 

Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia laut – herbivora, memakan tanaman laut yang lembut dan alga laut. Dugong merupakan biota yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, termasuk dalam Daftar Merah IUCN (the International Union on Conservation of Nature) sebagai satwa yang "rentan terhadap kepunahan", dan Apendiks I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Berbagai isu dan permasalahan dalam upaya konservasi dugong tidak dapat dilepaskan dari minimnya data dan informasi yang tersedia, disebabkan penelitian terhadap dugong dan lamun masih terbatas, ditambah data/informasi yang masih terserak belum terkumpul secara nasional dengan baik. Meski dilindungi penuh, ancaman eksploitasi terhadap dugong tetap ada, diantaranya masih marak nya perdagangan illegal terhadap bagian-bagian dugong dengan nilai yang menggiurkan dipasaran. Hal ini menuntut pengawasan dan penegakan hukum yang perlu ditingkatkan. Disamping itu, Dugong juga mengalami ancaman penurunan populasi di alam secara signifikan, sebab reproduksi yang sangat lambat, diperlukan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan masa kehamilan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru, dengan interval selang reproduksi sedikitnya 2,5 – 5 tahun. Populasi di alam semakin terancam dengan masih seringnya dugong tertangkap (bycatch) pada kegiatan perikanan serta kejadian dugong yang terdampar. Semakin tergerus dan terdegradasinya padang lamun sebagai habitat dugong semakin nyata perlunya upaya konservasi untuk melestarikan dugong dan habitatnya.

Program Konservasi Pelestarian Dugong dan Lamun melalui DSCP Indonesia dilaksanakan selama 3 tahun (2016-2018), menyasar kepada upaya untuk memperkuat dan mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi untuk Dugong dan Lamun (ID-1); meningkatkan kesadaran nasional dan penelitian tentang dugong dan lamun di Indonesia (ID-2); serta pengelolaan dan konservasi dugong dan lamun berbasis masyarakat di 4 lokasi prioritas (Bintan, Kotawaringin Barat, Alor dan Tolitoli) (ID-3). Dalam Program ini, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati laut Kementerian Kelautan dan perikanan bertindak selaku project partners UNEP-CMS sebagai Executing Agency dan Focal Point, sedangkan Channeling Fund melalui Yayasan WWF Indonesia yang juga bertindak sebagai Executing Partners, bersama dengan LIPI dan IPB. Dalam pelaksanaannya DSCP Indonesia dilaskanakan dan didukung oleh KKHL-KKP, WWF-Indonesia, IPB, P2O-LIPI, Balitbang-KKP, Yayasan LAMINA, Pemerintah daerah dan perguruan tinggi setempat yang berada di site project DSCP serta Pemangku kepentingan lainnya.

Anda tidak memiliki akses untuk komentar artikel. Silakan login untuk memberi komentar ...

5243889
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1119
3288
7511
66436
102644
5243889

IP Anda: 54.144.29.233
Waktu Server: 2017-08-22 08:43:13

 

Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com