Sepuluh Ekor “Individu Baru” Hiu Paus Diidentifikasi di Perairan Talisayan, Berau!

bpspl 1Berau – Hiu paus (Rhincodon typus) mulai dikenal di Kalimantan sejak muncul di pemberitaan media pada akhir 2013 lalu. Namun, data mengenai kemunculan hiu paus di Talisayan masih belum tersedia, termasuk data resmi dari Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI).

Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ir. Yulita Wismaneli, mengatakan, masih banyak informasi yang harus digali dari ikan yang telah dilindungi penuh berdasarkan KEPMEN KP No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus, karena masih minimnya data dan informasi. Oleh karena itu, BPSPL Pontianak Survei Identifikasi Hiu Paus di Talisayan”.

Penelitian ilmiah perdana melalui Survei Identifikasi Hiu Paus dilakukan pada tanggal 16-19 September 2014, oleh tim yang terdiri dari BPSPL Pontianak, DKP Berau, Universitas Mulawarman, dan WWF-Indonesia. Dalam survei yang dilakukan selama 4 hari, tim berhasil mengidentifikasi 10 ekor hiu paus dengan komposisi 9 ekor jantan dan 1 ekor betina yang berukuran dari 2 sampai 7 meter.

Menurut Casandra Tania, Marine Species Officer WWF-Indonesia, ukuran hiu paus yang dijumpai ini tergolong masih remaja atau belum dewasa. Casandra juga menjelaskan bahwa tren kemunculan hiu paus dengan mayoritas individu jantan yang belum dewasa juga dijumpai di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Barat; Papua dan Ningaloo Reef, Australia. Komunitas peneliti internasional pun masih belum mengetahui pasti dimana keberadaan individu hiu paus yang betina, anakan/bayi, dan dewasa.

Kepala DKP Berau, Fuadi, melalui Kepala Seksi Konservasi dan Pengembangan Pesisir dan Pulau Kecil, Yunda Zuliarsih, mengatakan, hiu paus di sekitar bagan di Perairan Talisayan memberikan peluang untuk pengembangan kegiatan wisata. Namun, sebelum kegiatan pemanfaatan (wisata) dimulai, survei untuk pengumpulan informasi awal perlu dilakukan agar kegiatan wisata tidak berkembang liar.

bpspl 2   bpspl 3   

Hal senada juga diungkapkan oleh Abdul Rahman, SH, Camat Talisayan bahwa data dan informasi yang telah dikumpulkan akan bermanfaat untuk lebih memahami keberadaan hiu paus di Talisayan dan mendukung pengembangan wisata yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hiu paus atau yang oleh masyarakat Talisayan dikenal dengan hiu tutul atau Labetti (ikan yang berbintik) akan menjadi daya tarik dan ikon wisata bahari untuk Kecamatan Talisayan.

Survei yang telah dilakukan merupakan tahap awal dari studi Hiu paus di Talisayan. “BPSPL Pontianak berencana untuk melakukan survei lanjutan tahun depan guna memperdalam informasi yang sudah ada dengan melibatkan banyak pihak seperti dari otoritas ilmiah (LIPI), Perguruan Tinggi dan LSM dalam pelaksanaannya,” kata A.Muh. Ishak Yusma, penanggung jawab kegiatan survei dan Kepala Satker Balikpapan, BPSPL Pontianak.

Sementara menurut salah satu tim survei dari Universitas Mulawarman, Adnan, M.Si, Indonesia minim peneliti untuk spesies terancam punah atau yang dilindungi khususnya hiu paus meskipun Perguruan Tinggi di Indonesia sudah banyak melahirkan peneliti-peneliti baik dari mahasiswa maupun dosen. Melalui survei ini diharapkan bisa merangsang para peneliti melakukan kajian dan riset terkait hiu paus yang ada di Indonesia.

Hiu paus adalah ikan terbesar di dunia. Spesies ini diduga dapat tumbuh hingga 18 -20 m, namun sangat jarang ditemukan spesimen yang berukuran diatas 12 m dengan bobot 20 ton. Walaupun ukurannya besar, hiu paus cenderung jinak dan tidak berbahaya untuk manusia.

Hiu ini memiliki kulit setebal 2 mm yang berwarna abu-abu dan dihiasi totol-totol putih. Menurut para ilmuwan, pola totol-totol itu dianggap unik untuk masing-masing individu dan dapat digunakan sebagai dasar identifikasi individu hiu paus.

Perairan tropis dan subtropis yang hangat (18-30°C) kecuali di Laut Mediterrania dapat ditemui keberadaan hiu paus. Ikan ini merupakan hewan yang bermigrasi. Ada dugaan bahwa individu-individu hiu paus yang ditemui di Ningaloo Reef, Australia bermigrasi ke Filipina melalui Indonesia.

Di Indonesia, hiu paus ditemui di perairan Sabang, Kalimantan Barat, Berau, Situbondo, Probolinggo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Di daerah Probolinggo, Jawa Timur kehadirannya bersifat musiman yaitu Januari-Maret, sementara di Kwatisore, Teluk Cenderawasih, Papua Barat, hiu paus hadir sepanjang tahun. Tren di lokasi lain khususnya di Talisayan masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

bpspl 4   bpspl 5 bpspl 6

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi :

Casandra Tania, Marine Species Officer, WWF Indonesia

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ; Hp: +62811 8898075

 

A.Muh. Ishak Yusma, Kepala Satker Balikpapan, BPSPL Pontianak

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Hp : +62 8124233 979

bpspl 7

 

 

 

 

 

 

 

Anda tidak memiliki akses untuk komentar artikel. Silakan login untuk memberi komentar ...

8519506
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
261
5224
5485
85046
151817
8519506

IP Anda: 18.205.176.85
Waktu Server: 2019-11-18 00:40:41

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com