Kronologis Terdampar Paus Pilot (Short Finned Pilot Whale) di Kab. Sabu Raijua Nusa Tenggara Timur, Propinsi NTT

berita pausPada hari Senin, tanggal 1 Oktober 2012 sekitar pukul 19.00 WITA masyarakat pesisir desa Deme, Kecamatan Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi NTT melaporkan kepada Camat bahwa mereka menemukan paus terdampar disekitar pantai. Pada malam itu juga camat memberikan informasi kepada Bapak Bupati Kabupaten Sabu Raijua Ir. Marthen Dira Tome mengenai kejadian paus terdampar tersebut. Bupati setelah mendapatkan laporan dari Camat tersebut pada malam itu juga bersama dengan Kepala Dinas Kelauatan dan Perikanan beserta Polisi turun kelapangan melihat kondisi paus yang terdampar tersebut.

Pada malam tersebut Bupati bersama dangan masyarakat mendata jumlah paus yang terdampar di pantai pada awalnya berjumlah 48 ekor. Kondisi paus pada saat itu hampir semuanya dalam kondisi hidup dengan tergenang air sekitar mata kaki. Karena kondisi paus pada malam itu masih dalam keadaan hidup, Bupati memeritahkan kepada muspida dan masyarakat untuk dapat melakukan pertolongan dengan mengangkat paus tersebut kedalam air, namun karena kondisi jumlah tenaga yang terbatas serta kondisi pantai yang landai dan berat tubuh paus yang berat, maka usaha tersebut tidak dapat maksimal dilakukan. Penyelamatan paus dengan usaha mengembalikan ke laut dapat dilakukan sebanyak 6 ekor, namum 2 ekor kembali lagi kepantai. Sedangkan 4 ekor diperkirakan pada malam itu telah kembali ke laut. Sehingga total yang terdampar di pantai desa deme berjumlah 44 ekor.

Pada hari selasa tanggal 2 oktober 2012, sekitar jam 6 pagi kondisi 44 ekor paus dilaporkan masyarakat telah mati semuanya. Pada pagi hari itu juga masyarakat sekitar desa Deme telah melakukan pomotongan tubuh paus untuk dikonsumsi dan mengambil minyaknya. Bupati telah berusaha menghimbau kepada masyarakat agar tidak mengkonsumsi daging paus tersebut karena dikwatirkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, sampai menunggu pengkajian terhadap keamanan paus tersebut. Namum kondisi masyarakat yang banyak datang kelokasi dan telah memotong beberapa ekor paus akhirnya Bupati mempersilahkan masyarakat untuk memanfaatkan tubuh paus tersebut. Pengambilan daging dan lemak paus terutama bagian kulit untuk dijemur untuk mendapatkan minyak ikan paus sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah dan sebagai obat serangga pengganti pestisida atau insektisida.

Menurut keterangan bupati dan masyarakat bahwa di kabupaten tersebut atau sekitar pulau Sabu dan Raijua hampir setiap tahun selalu ada informasi paus yang terdampar, namum untuk sekitar pesisir desa Deme tersebut merupakan yang pertama sekali dan merupakan jumlah yang terbanyak di Kabupaten Sabu Raijua. Menurut Bupati masyarakat di daerah tersebut hampir dipastikan mengkonsumsi daging paus jika ada yang terdampar, namum ada juga kepercayaan masyarakat yang lainnya untuk tidak mengkonsumsi daging paus.

Informasi diterima oleh Direktorat KKJI mengenai Paus tersebut pada hari selasa pagi tanggal 2 oktober 2012 yang mana informasinya disampaikan oleh Bapak Jotham yang merupakan anggota Tim Pengkajian, Penetapan dan Perancangan Pengelolaan KKP (P4KKP) Laut Sawu. Berdasarkan informasi tersebut Tim KKJI melakukan koordinasi dengan Bupati dan Kepada Dinas Kelautan dan Perikanan mengenai informasi tersebut paus terdampar tersebut. Koordinasi dengan BKKPN Kupang juga dilakukan untuk memberikan bantuan arahan penyelamatan paus yang dimungkinkan masih hidup, serta merencanakan tim KKJI dari Jakarta untuk langsung menuju ke lokasi, karena keterbatasan penerbangan dari Jakarta ke Kupang pada hari itu, maka tidak dapat langsung berangkat ke Kupang.

Pada hari Rabu tanggal 3 oktober 2012 tim dari KKJI yaitu Simon Boyke Sinaga dan Arta Tidar wartawan dari majalah Maritim berangkat dari Jakarta ke Kupang dan langsung menuju ke kabuapten Sabu Raijua. Tim sampai di Kabupaten Sabu Raijua sekitar jam 14.00 WITA dan langsung berkoodinasi kekantor Bupati untuk mencari informasi mengenai paus tersebut. Pada saat itu juga bersama dangan Bupati dan Kepala Dinas langsung menuju kelokasi tempat paus terdampar. Rombongan tiba dilokasi telah menemukan seluruh paus yang terdampar dalam kondisi telah dipotong-potong oleh masyarakat, sehingga dari jumlah 44 ekor paus yang terdampar tidak ditemukan lagi yang dalam kondisi utuh, dan tubuh paus telah dalam kondisi membusuk dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Dari hasil indentifikasi bentuk tubuh paus tersebut dengan mangacu dengan beberapa literatur, bahwa paus yang terdampar tersebut merupakan jenis paus pilot atau Short Finned Pilot Whale, dangan nama latin : Globicephala Macrohynchus.

Pada saat itu juga tim bersama dengan pemda melakukan indifikasi paus dengan mengambil beberapa data seperti panjang, lebar dan mengambil sampel gigi dan daging paus. Dimana diharapkan sampel tersebut dapat diteleti di laborotorium. Karena kondisi paus yang telah membusuk dilakukan juga koordinasi dengan pemda untuk melakukan beberapa tindakan seperti menghimbau masyarakat agar tidak mendekat ke bangkai Paus karena dikwatirkan dapat menjadi hama penyakit bagi manusia serta berkoordinasi dengan Pemda rencana pengkuburan bangkai paus tersebut.

Terdapat beberapa alternative yang akan diambil untuk tindakan penanganan bangkai paus antara lain menenggelamkan kelaut, mengkubur bangkai paus jauh dari pantai dengan menggunakan alat berat dan membakar bangkai nya. Namum kedua alternative tersebut tidak diambil karena kondisi tubuh paus yang telah terpotong-potong dimana isi bagaian dalam perut telah terburai keluar, sedangkan untuk mendatangkan alat berat kelokasi juga tidak memungkinkan karena kondisi jalan menuju kelokasi yang rusak, sehingga dikwatirkan alat berat akan sulit didatangkan. Serta kondisi tenaga yang terbatas untuk menangani pengkuburan tersebut. Sehingga pada saat itu diputuskan bangkai paus dikubur di samping tubuh paus terdampar dipantai.

Pada hari Rabu tanggal 3 oktober 2012 sekitar pukul 14.00, tim dari P2O LIPI ibu Rr. Sekar Mira C.H.,M.App.Sc. yang merupakan kepala Devisi Riset Terapan Kelautan UPT LPKSDMO Pulau Pari, beserta Bapak Yongki dari BKKPN Kupang tiba di kabupaten Sabu Raijua. Tim terlambat datang kelokasi karena tidak dapat tiket pesawat. Pada hari itu juga dilakukan pengambilan sampel daging paus secara menyeluruh, seperti jaringan daging, gigi, hati, darah, lemak, kulit, jenis kelamin serta panjang dan lebar dari masing-masing paus. Terdapat kesulitan dalam pengambilan sampel karena beberapa kondisi tubuh paus yang tidak utuh lagi. Diharapkan dari sampel yang diambil tersebut nantinya dapat diteliti mengenai umur paus, genetik dan penyebab terdamparnya paus jika karena keracunana.

Secara fisik dari data yang didapat bahwa panjang tubuh paus yang terbesar dengan panjang 6 meter dan ukuran terkecil sekitar 2 meter, dari hasil pengamatan dipastikan bahwa rata-rata paus tersebut telah dewasa, karena dari dalam perut 4 ekor paus ditemukan sedang dalam kondisi hamil, dimana dari pemotongan tubuh paus yang dialakukan oleh masyarakat ditemukan 4 ekor bayi paus.

Sifat dari paus pilot yang memilki sifat sosial yang tinggi, paus pilot biasanya hidup berkelompok dan pimpinan kelompok selalu diikuti paus lainnya. Sehingga jika pimpinannya stres karena faktor kerusakan lingkungan dan jalurnya terganggu maka dia bisa mengikuti keputusan pimpinannya. Hal ini terlihat dari usaha yang dilakukan sewaktu penyelamatan paus dilakukan, dimana dicoba untuk menarik beberapa ekor ke laut namum sepertinya paus tersebut menolak dengan seperti meronta untuk melawan. Beberapa ekor yang diusahakan untuk ditarik kelaut namun setelah sampai dilaut paus tersebut kembali lagi kepantai, apakah karena mereka masih melihat pimpinananya masih didarat sehingga tidak mau ditarik kelaut.

Pada hari jumat tanggal 5 oktober diinformasikan oleh mahasiswa UNDANA bahwa di pulau Raijua (pulau sebelahnya, yang merupakan bagian dari kabupaten Sabu Raijua) telah ditemukan 9 ekor paus yang juga terdampar, informasi ini belum dapat dikonfirmasikan kepastiannya, karena tim hanya baru mendapat informasi secara lisan, sehingga jika dijumlahkan total terdamparnya paus menjadi 44 ekor + 7 ekor menjadi 51 ekor.

Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Kupang propinsi NTT, yang terbentuk pada tahun 2008 dengan ibukotanya Menia. Jumlah penduduk 91.870 jiwa (tahun 2009). Yang terdiri dari 6 kecamatan, 5 Kelurahan dan 58 Desa. Pemilihan kepala daerah dilakukan pada tahun 2010, sehingga bupati yang sekarang ini merupakan Bupati pertama yang masa kerjanya baru sekitar 1 tahun 8 bulan. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang tergolong miskin, dengan kondisi kultur tanah keras dan berbatuan. Produk Unggulan berupa (informasi http://nttprov.go.id), terdiri dari : pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan Pertambangan. Transportasi menuju ke kabuapten Sabu Raijua menggunakan pesawat kecil yang jumlah penumpang 12 orang dengan maskapi Susi Air dari Kupang selama penerbangan sekitar 1 jam, penerbangan dari Kupang dengan jadwal 2 kali sehari. Selain dengan pesawat transportasi ke kabupaten dapat dilakukan dengan kapal ferry setiap hari yang dapat ditempuh selama 8-12 jam dari kota Kupang ke tujuan Sabu.

Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten yang termaksud dalam Kawasan Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, yang dideklarasikan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 8 Mei tahun 2009 dengan Nomor KEP.38/MEN/2009 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan sekitarnya di propinsi NTT. Kawasan TNP Laut Sawu meliputi perairan seluas lebih dari 3,5 juta hektar, yang terdiri dari 2 bagian yaitu Wilayah Perairan Selat Sumba dan sekitarnya seluas 567.165,64 hektar dan wilayah Perairan Pulau Sabu-Rote-Timor-Batek dan sekitarnya seluas 2.953.964,37 hektar. Selain itu kabupaten Alor sebelumnya telah menetapkan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Alor seluas 400.000 hektar pada bulan Maret 2009. Kedua kawasan tersebut menjadi kawasan konservasi perairan di Wilayah perairan Laut Sawu seluas 3,5 juta hektar.

Laut Sawu memiliki sebaran tutupan terumbu karang dengan keragaman hayati spesies yang sangat tinggi di dunia serta merupakan habitat kritis sebagai wilayah perlintasan 18 jenis mamalia laut, termaksud 2 spesies paus yang langka, paus biru dan paus sperma. Laut sawu juga merupakan habitat yang penting bagi lumba-lumba, duyung, ikan pari manta dan penyu.

Tim KKJI juga melakukan diskusi dengan Bupati dan Dinas Kelauatan dan Perikanan mengenai pentingnya Kabupaten Sabu Raijua sebagai wilayah yang masuk dalam bagian TNP Laut Sawu, dimana Bupati sangat bangga dan antusias terhadap penetapan tersebut. Pengalaman dari kejadian terdamparnya paus pilot ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga sekali bagi pemda, dimana dengan banyaknya berita dimedia mengenai pemberitaan paus tersebut dengan tidak sengaja Kabupaten Sabu Raijua menjadi terkenal. Pemda Sabu Raijua mengharapkan agar tahun 2013 melalui KKP dapat melakukan kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk pengelolaan TNP Laut Sawu seperti bantuan kapal patrol, dilakukan sosialisasi mengenai pelestarian paus, pemberdayaan atau peningkatan mata pencaharian masyarakat, melakukan pelatihan bagi pemda dan masyarakat mengenai penyelamatan paus. Pemda juga akan menjadikan paus sebagai lambang maskot kabupaten Sabu Raijua.

Dengan seringnya terjadi fenomena mamalia laut ini terdampar, Ditjen KP3K cukup konsen dalam perlindungan dan pelistarian mamalia laut tersebut, beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain :

Sedang disusun SOP mengenai penanganan mamalia laut yang sedang terancam, dimana di SOP ini akan diatur bagaimana cara penanganan yang dapat dilakukan oleh pemda dan masyarakat jika menemukan mamalia laut yang terancam yang kemungkinan akan terdampar dan bagaimana penanganannya jika mamalia laut tersebut telah terdampar. SOP ini nantinya akan menjadi Pedoman Umum dalam penanganan mamalia laut, diharapkan nantinya dapat di tetapkan oleh oleh SK Dirjen KP3K.

Dalam penerapan SOP tersebut akan dilakukan pelatihan kepada staf di UPT, Pemda dan masyarakat dilokasi yang merupakan daerahnya adalah jalur migrasi mamamalia laut. Akan di bentuk suatu badan atau gugus kerja untuk penyelamatan mamalia laut yang terancam, yang mana diharapkan dengan adanya dapat suatu badan atau gugus kerja dapat dengan mudah mengkoordinasikan bantuan penyelamatan mamalia laut dengan melibatkan berbagai staekhorlder yang terkait serta mengoptimalkan pengelolaan TNP Laut Sawu.

Fenomena terdamparnya satwa langka yang dilindungi, seperti paus kian menyita perhatian masyarakat luas. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki tupoksi dalam mengelola kelompok biota laut yang dilindungi melalui upaya konservasi eksosistem, konservasi jenis ikan dan konservasi genetika ikan.  Tupoksi tersebut mencakup pengelolaan kelompok satwa yang dilindungi seperti paus, penyu, lumba-lumba, serta biota perairan yang tergolong pisces (ikan bersirip). Adapun tupoksi KKP sendiri dalam mengelola konservasi sumber daya ikan termasuk pengelolaan kawasan konservasi perairan merujuk pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 7 ayat (1) dan perubahan Undang-Undang Nomor 45  Tahun 2009. Disamping itu, terdapat pula Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri Kehutanan No. SKB.03/MEN/2006 dan No. SKB. 01/MENHUT-II/2006, mengenai pembentukan tim penyelarasan urusan KKP dan KEMENHUT di bidang konservasi dan pesisir.

Paus memang tergolong kedalam mamalia laut, bukan termasuk kedalam golongan pisces (ikan bersirip). Namun demikan jika kita mengacu pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004, maka pengertian ikan adalah  adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan, meliputi kategori Pisces (ikan bersirip), Crustacea, Mollusca,  Coelenterata, Amphibia, Echinodermata, Algae, Reptilia, *Mammalia (paus)* dan biota perairan lainnya. Pengertian jenis ikan tersebut sebenarnya bukan merupakan hal baru dalam dunia (ilmu) perikanan.  Pengertian tersebut sudah ditetapkan sejak tahun 1985, yakni sejak diundangkannya Undang-undang nomor 9 tahun 1985 tentang Perikanan. Sedangkan jenis-jenis satwa liar (yang dilindungi) baru dikenal pada tahun 1999, yakni dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.

Sebagai otoritas pengelola di bidang konservasi sumberdaya ikan, yang dimandatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, KKP telah melakukan upaya pengelolaan terhadap biota laut laut langka  dengan menetapkan jalur migrasi paus di laut Sawu, NTT seluas 3,5 juta ha sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep.38 Tahun 2009.

Kawasan konservasi  perairan nasional memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai benteng perlindungan spesies dan bagi upaya konservasi keragaman hayati untuk meredam laju kepunahan spesies biota laut. Melalui cara tersebut diharapkan upaya perlindungan secara lestari terhadap sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumber daya alam laut secara berkelanjutan dapat terwujud. Indonesia sendiri saat ini telah berhasil menetapkan kawasan konservasi laut seluas  15,5 juta ha atau 77,5 persen dari target kawasan konservasi perairan yang telah ditetapkan sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020.

Tak cukup sampai disitu, KKP menerapkan pendekatan pengelolaan kawasan konservasi dengan mengadopsi dari konsep blue economy yang merupakan sebuah keseimbangan antara upaya konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Rencananya, di wilayah konservasi tersebut pemerintah akan mengembangkan konektivitas antar pulau dan kawasan, pariwisata bahari, budidaya perikanan maupun pemanfaatan sumber daya mineral laut yang dilakukan melalui pendekatan ekonomi biru. Langkah ini ditempur agar sumber daya laut dapat menjadi penggerak utama bagi pembangunan ekonomi nasional di masa depan.

Sejak 2008, KKP telah membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) di beberapa daerah diantaranya, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong, BPSPL Denpasar, BPSPL Makassar, dan BPSPL Pontianak. Disamping itu, terdapat pula.

Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru dan LPSPL Serang. Tugas utama BKKPN/LKKPN adalah mengelola, pemanfaatan, dan pengawasan kawasan konservasi perairan nasional demi terjaganya kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sementara itu, tugas utama BPSPL/LPSPL adalah melaksanakan pengelolaan yang meliputi perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku.

Selanjutnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan terus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap biota laut berukuran besar yang mengalami pendamparan, khususnya terhadap lokasi penenggalaman bangkai paus di perairan Kotok Kepulauan seribu akan dilakukan pemantauan habitat. Sosialisasi dan pembinaan kepada masyakarat dilokasi paus terdampar juga akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat akan pentingnya menjaga sumberdaya ikan yang langka dan terancam punah. Selain itu pada tahun 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan melakukan kegiatan penyusunan rencana aksi konservasi paus di Indonesia. Oleh karena pengelolaan biota laut langka berukuran besar membutuhkan effort yang cukup besar, maka penting untuk menjaring kemitraan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak agar kedepan sumberdaya paus di Indonesia dapat terus terjaga dan lestari.

Sumber: Simon Boyke Sinaga.

Anda tidak memiliki akses untuk komentar artikel. Silakan login untuk memberi komentar ...

7021959
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1020
2920
13360
49226
147568
7021959

IP Anda: 54.91.203.233
Waktu Server: 2018-11-15 09:16:29

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com