Kementerian Kelautan dan Perikanan Lakukan Penanganan Paus Sperma Terdampar

Menyelamatkan mamalia laut berukuran 2 Ton yang terdampar di perairan dangkal setinggi 1 meter bukanlah perkara yang mudah, terlebih dalam meyakinkan berbagai pihak dan pemangku kepentingan untuk ikut berperan aktif bekerjasama menyelamatkan paus yang terdampar, dibutuhkan effort yang cukup besar dan peralatan yang memadai untuk bisa melepaskannya kembali ke laut lepas, Namun kesadaran dan rasa empati akan pentingnya menyelamatkan biota laut langka yang termasuk kedalam jenis yang dilndungi, baik dilindungi secara nasional maupun secara internasional telah membuat berbagai pihak yang be  rkepentingan bahu membahu melakukan upaya penyelamatan paus yang terdampar di perairan Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Seperti yang kita ketahui, pada hari Rabu tanggal 25 Juli 2012, nelayan di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, menemukan seekor paus yang terdampar dalam kondisi hidup di perairan Tanjung Pakis – Karawang, sekitar 500 m dari bibir pantai. Paus yang terdampar tersebut teridentifikasi sebagai jenis paus sperma (Sperm Whale) dengan nama latin Physeter macrocephalus. Paus ini memiliki berat sekitar 2 ton 8 kuintal dengan panjang 12 meter, ukuran seperti itu merupakan paus muda. Paus dewasa yang temasuk kelompok paus bergigi (odontocete) bisa memiliki berat sampai 15 ton (betina) dan 45 ton (jantan). Adapun panjangnya bisa mencapai 11 meter (betina) dan 16 meter (jantan).

Paus yang terdampar di Pantai Tanjung Pakis, Karawang yang termasuk ke dalam perairan utara Jawa diluar kebiasaan migrasi paus pada umummnya. Paus termasuk kedalam Migratory Species, yang melakukan migrasi secara bersama - sama dalam satu pasangan atau dalam satu kelompok yang dipimpin oleh betina yang paling tua. Jalur migrasi Paus Sperma di Indonesia adalah mulai perairan selatan Selat Malaka, selatan Sumatera Selatan, Selatan Pulau Jawa, Selat Bali - Lombok kemudian ke utara lewat Selat Makasar. Diduga kuat penyebab bayi Paus ini terdampar dikarenakan terserang penyakit, yang menyebabkan Paus ini terpisah dari kebiasaan migrasinya dan mengalami disorientasi ke perairan Karawang

Kemudian terhadap paus terdampar tersebut dilakukan upaya evakuasi selama 4 (empat) hari untuk mengembalikannya ke laut dan upaya tersebut berhasil dilakukan tim gabungan pada hari sabtu tanggal 28 Juli 2012, pukul 14.00 secara estafet menggunakan Kapal KN348 milik Pangkalan Laut dan Pantai (PLP),dan kapal tag bout TB Bima milik Pelindo II. Paus sperma berkelamin jantan yang masih tergolong bayi tersebut berhasil dilepas pada kedalaman 25 meter. Namun demikian pada saat dilepas terlihat paus dalam kondisi lemah. Sehingga pada hari Minggu tanggal 29 Juli 2012, paus tersebut terlihat kembali terdampar dalam keadaan sudah mati dan terdapat luka di sekujur tubuh paus di perairan Muaragembong Bekasi.

Sebagai jenis yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, penangkapan paus untuk dimanfaatkan dagingnya, baik dalam keadaan hidup maupun mati   serta       dalam       bentuk bagian-bagiannya, sama sekali tidak diperbolehkan, dan dapat dikenakan sanksi berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Sehingga pada hari senin tanggal 30 Juli 2012 dilakukan tindakan evakuasi pemindahan bangkai paus melalui laut ke Pulau Kotok di Kepulauan Seribu, untuk dilakukan penenggalaman bangkainya agar mengalami pembusukan secara alami, dan kerangkanya dikemudian hari akan diangkat untuk dijadikan koleksi dan bahan penelitian.

Kegiatan penenggelaman bangkai paus sendiri dilakukan pada hari Selasa tanggal 31 Juli 2012 di perairan Pulau Kotok pada kedalaman 25 – 30 m. Penenggelaman dilakukan dengan cara menyelimuti terlebih dahulu badan Paus dengan jaring dan tali yang diperoleh dari STP Jakarta untuk melindungi tulang belulang Paus agar tidak berserakan, kemudian badan Paus dibebani alat pemberat hingga tenggelam. Kegiatan ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen KP3K, Balitbang KP, Ditjen PSDKP), LIPI, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perhubungan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kep. Seribu, Pasukan Katak Kopassus, dan LSM Jaringan Jakarta Animal Aid.  Sampai dengan pukul 18.00, kegiatan penenggelaman belum berhasil dilakukan karena 2 ton pemberat yang dipasang belum dapat menenggelamkan bangkai Paus tersebut. Hari Rabu tanggal 1 Agustus 2012, kegiatan penenggelaman bangkai paus terus dilanjutkan dengan menambahkan pemberat dan mengeluarkan gas yang ada di tubuh paus. Namun demikian hingga saat ini bangkai paus tersebut masih belum berhasil ditenggelamkan.

Sebagai otoritas pengelola di bidang konservasi sumberdaya ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan terus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap biota laut berukuran besar yang mengalami pendamparan, khususnya terhadap lokasi penenggalaman bangkai paus di perairan Kotok Kepulauan seribu akan dilakukan pemantauan habitat. Sosialisasi dan pembinaan kepada masyakarat dilokasi paus terdampar juga akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat akan pentingnya menjaga sumberdaya ikan yang langka dan terancam punah. Selain itu pada tahun 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan melakukan kegiatan penyusunan rencana aksi konservasi paus di Indonesia. Oleh karena penanganan biota laut terdampar membutuhkan suatu pengetahuan atau keahlian tentang bagaimana menangangi spesies yang terdampar, khususnya paus dan lumba – lumba maka penting untuk menyusun panduan penanganan biota laut terdampar serta menjaring kemitraan dengan berbagai pihak agar kedepan penanganan terhadap paus terdampar bisa lebih baik lagi.

Meskipun penanganan paus sperma terdampar pertama di Indonesia yang dilakukan dengan koordinasi yang baik tidak berhasil membuatnya kembali hidup bebas di laut lepas seperti kisah “Big Miracle” penyelamatan paus yang terdampar di Alaska, paling tidak Indonesia telah menunjukan kepeduliannya pada jenis yang dilindungi. Dan terhadap semua pihak dan relawan yang telah membantu dalam penanganan paus terdampar, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi. Sumber : PBS

Anda tidak memiliki akses untuk komentar artikel. Silakan login untuk memberi komentar ...

5638582
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
361
11220
20568
102669
157961
5638582

IP Anda: 54.198.221.13
Waktu Server: 2017-11-22 01:58:11

 

Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com