Hubungi kami

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16 Jakarta 10110

Email : info.kkji@gmail.com

Bahan Pelatihan

Modul Pelatihan2

Login

Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Sulawesi Selatan
  • Pangkep
  • Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Tupabbiring
  • SK Bupati No. 180 Tahun 2009
    SK No.523/179/Dislutkan tanggal 25 September 2012

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 171,937.71
  • VI
  • 40,40 - 80 LS
  • 1100 - 11300 BT
  • Merah

  • 100 27 0 0 0
  • images/FotoKawasan/pangkep1.jpg
  • Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dicirikan dengan wilayah perairannya lebih luas dibandingkan daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17. Kabupaten Pangkep memiliki 117 pulau dan hanya 80 diantara yang berpenghuni, terbagi dalam 3 kecamatan yaitu Kecamatan Tuppabiring, Kecamatan Liukang Kalmas dan Liukang Tangayya. Dasar hukum penetapan perairan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pankep adalah SK Bupati Pangkep No. 180 tahun 2009 yang ditandatangani pada tanggal 5 Januari 2009.

  • Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara dan Liukang Tuppabiring. Kecamatan ini dapat dijangkau dengan menggunakan speed boat sekitar 90 Menit ke arah barat laut Makasar.

    Luas perairan yang dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah adalah : 171.937,71 Ha, mencakup 15 desa pulau, dengan rincian zonasi sbb:
    • Zona Inti: 24.888,694 Ha
    • Zona Perikanan Berkelanjutan: 83.869,245 Ha
    • Zona Pemanfaatan: 53.274,621 Ha
    • Zona Lainnya: 9.905,148 Ha.

  • Sarana dan prasarana transportasi yang tersedia di kecamatan kepulauan Kabupaten Pangkep sangat terbatas, sehingga aksesbilitas masyarakat dari dan ke wilayah kepualauan tergolong sulit. Bahkan, di beberapa pulau tidak ada kapal angkutan penumpang, sehingga aksesibilitas masyarakat antar pulau menggunakan perahu nelayan.

  • Suhu udara berada pada kisaran 210C - 310C atau rata-rata 26,400C, dengan curah hujan maksimal pada tahun 2000 rata-rata mencapai 666/153 karena hujan dengan kelembaban udara yang merata, sementara keadaan angin berada pada kecepatan laut sampai sedang.

  • Berdasarkan hasil survei lapangan yang dilakukan di perairan kepulauan Spermonde kecamatan Liukang Tuppabiring diperoleh kisaran kedalaman rata-rata antara 2 - 35 m di sebelah timur barier reef Spermonde menuju daratan dan 2 - 200 m di sebelah barat barier reef Spermonde menuju Selat Makassar, sehingga kriteria dapat dikategorikan sebagai perairan laut dangkal di bagian Timur dan perairan dalam di bagian Baratnya.
    Sementara berdasarkan hasil pengukuran lapangan, arus cenderung sedang hingga kuat yaitu berkisar antara 0,03 - 0,2 m/dtk dan mengarah ke selatan dengan kecepatan rata-rata 0,1 m/dtk. Kecepatan arus yang tinggi dijumpai di barier reef Spermonde yaitu berkisar 2,0 - 6,0 m/detik. Sementara rata-rata suhu berkisar 270C, yang merupakan kisaran suhu normal untuk perairan tropis dimana kawasan perairan Spermonde dipengaruhi oleh arus-arus lintas Indonesia.

  • Ekosistem mangrove terdapat di daerah pesisir daratan utama Kabupaten Pangkep yang merupakan sisa-sisa hutan mangrove yang tumbuh secara alami, atau di tanam oleh masyarakat di sekitar permukiman dan areal tambak. Luas hutan mangrove di wilayah pesisir daratan utama dan Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep adalah 1.764 Ha.
    Sementara itu, di perairan Kabupaten Pangkep ditemukan 176 jenis hewan pembentuk karang. Jenis terumbu karang yang banyak ditemukan adalah Acropora spp sebanyak 16 jenis, Montipora 15 jenis, Porites spp 11 jenis, dan Favia spp 6 jenis. Pada umumnya terumbu karang ditemukan pada kedalaman 1-10 m, sekalipun demikian di Pulau Langkadea terumbu karang juga ditemukan pada kedalaman 25 m. adapun persentase tutupan karang di perairan Kabupaten Pangkep bervariasi antara 1-64%. Berdasarkan data COREMAP 2005, kondisi terumbu karang di Kabupaten Pangkep 74,26% dalam kondisi rusak dan hanya 25,74% dalam kondisi baik dari total luas keseluruhan terumbu karang sebesar 27.027,71 ha. Jenis ikan karang yang ditemukan di perairan ini sebanyak 218 jenis, diantara Lencam (Pentapodus spp dan Scolopsis spp.), ikan Pakol (Achanthurus spp), Ekor Kuning (Caesio spp) (PSTK UNHAS, 2002).
    Jenis vegetasi lamun yang dominan di daerah pantai Kabupaten Pangkep adalah Enhalus accoroides dan Thalassia hemprichii. Jenis lain yang ditemukan adalah Cymodocea rotundata, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Halophila Ovalis, Halophila minor, dan Syringodium isoetifolium (PSTK¬ UNHAS, 2002). Persentase tutupan lamun sangat bervariasi dari satu lokasi ke lainnya. Luas padang lamun di wilayah pesisir daratan utama dan Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep sekitar 3.857 Ha.

  • Pada tahun 2007 jumlah Penduduk Kabupaten pangkep adalah 302.874 jiwa, dimana sekitar 58.864 jiwa atau 19,44% berada di wilayah kepulauan. Di antara ketiga Kecamatan yang berada di kepulauan, Kecamatan Liukang Tupabbiring merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, yaitu 50,42%. Jumlah penduduk yang mendiami kecamatan ini pada tahun 2007 tercatat mencapai 29.680 jiwa yang terdiri atas etnis yang Bugis dan Makassar. Sedangkan Liukang Kalmas sebesar 12.471 jiwa dan Liukang Tangaya 16.713 jiwa.

  • Penduduk Kabupaten Pangkep yang menetap di pulau-pulau kecil umumnya menggeluti usaha pemanfaatan sumberdaya laut, baik sebagai nelayan penangkap maupun pembudidaya. Lokasi penangkapan mereka berupa areal yang disebut taka yakni terumbu karang yang hidup di perairan yang relatif dangkal (reef patch). Nelayan dari daerah lain seperti Makassar, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Madura, Sinjai, Takalar, seringkali beroperasi di wilayah kepulauan Liukang Tangngayya. Para nelayan pendatang tersebut menggunakan berbagai macam alat tangkap seperti, rumpon, gae, pancing, bom, bius dan pukat, untuk mendapatkan hasil laut.
    Sementara itu, jumlah alat tangkap ikan laut yang banyak digunakan nelayan lokal jaring insang tetap 991 unit, alat tangkap pancing 347 unit, dan pukat cincin 115 unit dan alat tangkap lainnya. Jenis ikan yang ditangkap antara lain ikan torani, lobster, kerapu, sunu, napoleon, katambak, tendro, teri, bawal hitam, gurita, tuna, cakalang, cucut, kerang-kerangan, baronang, ekor kuning, rapporappo dan ikan layang.
    Kegiatan budidaya rumput laut secara besar-besaran terdapat di Desa Sabalana dan Desa Aloang. Sebelumnya, warga pernah melakukan usaha budidaya rumput laut di sejumlah pulau lainnya seperti Pulau Kapoposang Bali, Sabaru dan Satanger, namun usaha tersebut gagal karena munculnya penyakit yang menyerang rumput laut yang mereka tanam.

  • Hasil tangkapan perikanan laut mencapai 7.944,3 ton dan budidaya rumput laut 7.174 ton. Adapun jenis ikan di perairan Pangkep adalah peperek, gerot-gerot, kakap merah, kerapu, lencam, cucut, pari, layang, selar, kuwe, tetengkek, tenggiri, belanak, teripang, tembang, lamuru, kembung, gulama, cakalang, rajungan, udang putih, cumi-cumi, bawal putih, senanging, udang (dogol, windu, kipas), japuh, terubuk, tuna, teri, dan lain-lain.

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep adalah didasarkan pada tingginya angka kerusakan terumbu karang. Pada tahun, COREMAP melaporkan kondisi terumbu karang di Kabupaten Pangkep 74,26% dalam kondisi rusak dan hanya 25,74% dalam kondisi baik dari total luas keseluruhan terumbu karang sebesar 27.027,71 ha. Kondisi ini sangat memprihatinkan, olehnya itu diperlukan upaya maksimal dan secepat mungkin dalam mengatasi masalah tersebut, sebab bila tidak, bukan saja kita kehilangan sumber keanekaragaman plasma nutfah, ekosistem pendukung kehidupan dan penyangga sumberdaya pangan, tapi juga hampir sekitar 53.355 jiwa lebih terancam kehilangan mata pencaharian.

  • Pariwisata Potensi Pariwisata di Kabupaten Pangkep meliputi :
    * Wisata Bahari yang terdiri dari obyek wisata taman laut Kapoposang dan Pulau Langkadea, Pulau Cengkeh, Pulau Pala dan beberapa pulau yang kosong. Disamping pantai pasir putih serta laut yang tenang, juga akan disuguhi taman laut berupa terumbu karang berbagai jenis yang dilengkapi dengan ikan hias beraneka warna.
    * Wisata bahari di Pulau Kapoposang kecamatan Liukang Tupabiring. Selain menyuguhkan alam pantai yang natural, juga dilengkapi dengan berbagai perlengkapan untuk menyelam (diving) dan snorkeling.
    * Taman rekreasi dan permandian alam Dufan Mattampa, Tombolo, Leang Surukang dan Amputtang. Sebagai kawasan wisata, dilengkapi dengan dua kolam renang yang berskala nasional, taman permainan, gua bersejarah hingga Museum Karts yang memiliki koleksi buku-buku karts.
    * Taman Purbakala Sumpang Bita yang berada di Kecamatan Balocci. Di kawasan ini, yang menjadi obyek utama adalah tangga seribu yang di puncaknya memiliki gua peninggalan bersejarah berupa tapak tangan dan kaki para nenek moyang. Dalam areal obyek wisata ini, merupakan perpaduan antara wisata agro yang memiliki tanaman berbaga macam serta taman yang indah.
    * Obyek wisata agro hutan bakau.
    * Obyek wisata pra sejarah Leang Alle Masigi, Leang Lompoa, Leang Kajuara, Leang Camming Kana dan Gua Batang Lamara.
    * Obyek wisata boga berupa makanan tradisional seperti dange, cucuru, dan makanan khas lainnya yang mudah didapat seperti di Kecamatan Segeri dan Mandalle.
    * Wisata Budaya seperti Pa'Bissu, Tari Pamingki dan beberapa tarian tradisional lainnya. Untuk Pa'bissu, suatu budaya yang kini masih dipegang erat oleh sekelompok masyarakat Bissu untuk menghormati leluhur. Tarian ini, sangat menakjubkan karena dengan menggunakan sebilah keris dan menancapkannya di batang leher. Dengan tarian dan musik yang khas, tarian itu menjadi sajian yang mengandung nilai budaya yang kental. Pa'bissu ini juga banyak dipergunakan masyarakat petani pada awal mengolah lahannya.
    * Wisata Tambak, ratusan hektar tambak tersebar di beberapa kecamatan, Pangkajene Bungoro Labakkang, Segeri dan Marang serta Mandalle.
    * Obyek wisata Industri Pabrik Semen Tonasa
    * Obyek Wisata Bissu Dewatae. Bissu Dewatae digambarkan sebagai manusia setengah dewa dan dianggap sebagai media untuk berkomunikasi dengan dunia spiritual. Saat melakukan acara ritual, Bissu Dewatae berada dalam keadaan kerasukan dan saat itu tubuh mereka menjadi kebal terhadap segala bentuk benda tajam. Kehebatan mereka dapat disaksikan saat mereka melakukan tarian Maggiri.

1511386
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
751
1570
7412
54006
66975
1511386

IP Anda: 54.89.139.226
Waktu Server: 2014-11-27 13:21:04

Menurut anda, bagaimanakah potensi perikanan di Indonesia

Berlimpah - 48%
Berkurang - 36%
Habis - 8%
Tidak Tahu - 8%

Total votes: 25