Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Kalimantan Timur
  • Berau
  • Kawasan Konservasi Kabupaten Berau
  • SK Bupati Berau No. 516 Tahun 2013. Tgl 02 09-2013

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 285,266.00
  • VI
  • Merah

  • 100 73 0 0 0
  • images/FotoKawasan/Berau-(kakaban)1.jpg
  • Keanekaragaman hayati kawasan ini cukup beragam antara lain penyu, mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Selain itu, perairan kawasan ini mempunyai biota yang sangat endemic yaitu jenis ubur-ubur. Ubur-ubur jenis ini hanya dijumpai di Indonesia (Pulau Kakaban) dan di Filipina. Adapun jenis ubur-ubur tersebut yaitu Cassiopeia ornate, Mastigiaspapu, Aurelia aurita dan Tripedaliacystophora. Mastigias dan Aurelia adalah jenis ubur-ubur yang sudah kehilangan kemampuan menyengat. Ubur-ubur yang paling kecil ukurannya ini masih dipertanyakan spesisnya, apakah Tripedaliacystophora atau cladonema.

  • Kawasan ini terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. KKP ini tersebar di 4 (empat) Kecamatan yakni di :
    • Kec. Pulau Derawan: 42583.8 Ha
    • Kec. Pulau Maratua: 74782.88 Ha
    • Kec. Batu Putih: 55534.89 Ha
    • Kec. Biduk Biduk: 14651.28 Ha

  • Untuk mencapai Pulau Kakaban dan sekitarnya dapat dilakukan dengan transportasi udara yang selanjutnya diteruskan dengan transportasi laut. Penerbangan dari Balikpapan diteruskan dengan menggunakan pesawat udara menuju Tanjung Redep yang merupakan ibukota Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
    Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju Pulau Kakaban melalui Pulau Derawan, Pulau Sangakali atau Pulau Maratua dengan menggunakan speed boat. Transportasi antar pulau yang terdapat di sekitar Kepulauan Derawan adalah motor boat.

  • Kisaran suhu permukaan rata-rata di kawasan Kepulauan Derawan antara 29,50C - 30,50C pada areal yang berhadapan dengan muara Sungai Berau. Sedankan pada areal yang dipengaruhi oleh laut lepas kisaran suhu rata-rata adalah 29,50C - 300C. Curah hujan tahunan rata-rata 2.396,1 mm dan curah hujan bulanan rata-rata 175,9 mm sampai dengan 231,15 mm, sedangkan curah hujan harian berkisar antara 0,6 mm sampai 21,8 mm dengan jumlah hari hujan antara 4 sampai 28 hari.

  • Pembentukan pulau kakaban merupakan suatu "uplifted reef asland" atau terumbu karang yang terangkat. Pulau Kakaban memiliki satu danau besar yaitu Danau Kakaban dan 6 danau-danau kecil. Empat diantaranya telah memiliki nama yaitu Danau Kehedaing, Danau Manimpa, Danau Batu Raja, dan Danau Tanjung Gemuk. Kedalaman danau berkisar antara 2-15 meter. Salinitas air danau lebih rendah daripada salinitas air laut yakni berkisar 24-26 ppt.
    Secara umum, nilai salinitas permukaan di Kepulauan Kakaban secara umum berkisar antara 32,5 ppt - 33,0 ppt, sedangkan daerah yang dipengaruhi oleh laut lepas bernilai sekiatr 33,5 ppt. Kecenderungan berfluktuasinya nilai salinitas pada perairan di Kepulauan ini sebagai akibat dari pengaruh percampuran air tawar yang berasal dari sungai-sungai yang mengalir ke arah selatan sampai ke timur menuju Pulau Kakaban.
    Kecepatan angin minimal 4,5 knot pada bulan Oktober dan November dengan arah barat laut (3300), dan kecepatan angin maksimum 5,5 knot terjadi pada bulan Juli dan Agustus dengan arah barat daya (2700). Arah angin umumnya berasal dari barat laut.

  • Hampir di sepanjang Pulau Kakaban ditemukan mangrove yang tumbuh pada substrat pasir di pecahan batu karang pada pantai yang sangat landai. Di samping itu juga ditemukan jenis tumbuhan dari formasi baringtonia yang biasanya berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. Kondisi vegetasi pantai tersebut masih sangat baik dan nampaknya belum ada kegiatan manusia yang merusak.
    Di sepanjang Danau Kakaban, ditemukan jenis tumbuhan mangrove, antara lain Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Xylocarpur granatum, Bruguiera gymnorrhiza dan Excoecaria agalocha. Jenis tersebut tumbuh di atas substrat dari pecahan batu karang, dan menempati areal yang lebarnya sekitar 10 meter dari pantai. Seeding dari jenis Rhizophora mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza yang ditemukan tumbuh di sekitar perakaran dan bongkahan batu karang.
    Bagian utara reef flat Pulau Kakaban, terumbu karang didominasi oleh jenis Acropora sp, Porites sp, Pocillopora sp dengan kedalaman kurang dari 1 meter. Makin jauh ke arah tubir terumbu karang semakin bervariasi jenisnya. Komunitas karang di Pulau Kakaban dikategorikan dalam kondisi baik karena tutupannya mencapai 66% dengan kecerahan air berkisar antara 10-25 meter.
    Jenis-jenis ikan karang yang umumnya dijumpai di perairan laut Pulau Kakaban dan sekitarnya didominasi oleh jenis-jenis dari suku pomacentridae, dan lutjanidae, dan ikan yang termasuk kelompok schooling fish yaitu acanthuridae. Ikan kupu-kupu (chaetodontidae) didominasi oleh jenis Chaetodon kleinii dan Chaetodon baronesa. Jenis - jenis ikan karang yang dijumpai pada Danau Kakaban umumnya ikan-ikan yang telah beradaptasi dengan kondisi salinitas air laut yang tergolong payau (25%) yaitu dari suku Gobiidae dan Apogonidae. Jenis-jenis ikan tersebut lebih berkonsentrasi pada areal dekat pantai diantara akar - akar mangrove dan tumbuhan laut lainnya.
    Lamun yang tumbuh di daerah ini sangat jarang yaitu terdiri dari 6 jenis dengan presentasi tutupan sekitar spesies yang dominan yaitu Cymodecea rotundata dan Thalassia hemprichii. Adapun jenis lain yang tumbuh antara lain seperti Halodule pinifolia, Halophila ovalls dan Halodule uninervis banyak tumbuh di sekitar 5-10 meter dari garis pantai. Luas areal lamun hanya sekitar 50x100 m2. Substrat di daerah lamun berupa pasir putih kecoklatan agak kasar dengan sedikit kandungan lumpur di bagian dasarnya.
    Selain itu, perairan laut Pulau Kakaban mempunyai biota yang sangat endemik yaitu jenis ubur-ubur. Ubur-ubur jenis ini hanya dijumpai di indonesia (Pulau Kakaban) dan di Filipina. Adapun jenis ubur-ubur tersebut yaitu Cassiopeia ornate, Mastigias papu, Aurelia aurita dan Tripedalia cystophora. Mastigias dan Aurelia adalah jenis ubur-ubur yang sudah kehilangan kemampuan menyengat. Ubur-ubur yang paling kecil ukurannya ini masih dipertanyakan spesisnya, apakah Tripedalia cystophora atau cladonema.
    Selain ubur-ubur, di Danau Kakaban juga terdapat jenis biota Halimeda sp, Caulerpa sp, Padina sp dan Bryopsis sp, anemon laut, ubur-ubur serata kepiting. Sedangkan pulau - pulau yang di sekitarnya yaitu merupakan habitat peneluran jenis penyu laut yang dilindungi, Pulau Sangakali, Pulau Derawan dan Pulau Samama.

  • Pulau Kakaban merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Pulau ini oleh nelayan dijadikan sebagai tempat singgah saat mencari ikan. Dari beberapa pulau yang ada hanya dua pulau yang berpenghuni yaitu Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Masyarakat yang barada di Kecamatan Maratua umumnya berasal dari suku Bajau dan sebagian datang dari Filipina (solo).
    Kondisi sosial ekonomi pada kedua pulau tersebut secara umum dianggap cukup baik dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Tahun 2003, total jumlah penduduk Pulau Derawan dan Pulau Maratua sebanyak 7.717 jiwa, dimana untuk kecamatan tersebut Derawan berjumlah 5.007 jiwa (64,88%), dan Kecamatan Maratua berjumlah 2.710 jiwa (35,12%).

  • Leading sector dalam perekonomian Kecamatan Pulau Derawan adalah sektor pertanian dengan pangsa relatif sebesar 75,89%. Sub sektor perikanan merupakan sub sektor penggerak perekonomian kecamatan ini dengan pangsa relatif sebesar 68,24%. Secara arbitrer sub sektor ini menjadi basis perekonomian kecamatan tersebut.

  • Kepulauan Derawan sebagai kecamatan dengan wilayah laut yang lebih luas dibanding dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Berau, mempunyai potensi perikanan yang masih besar untuk ditingkatkan pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari. Di kepulauan ini memiliki 347 jenis ikan karang dari 39 marga (genus), 7 diantaranya tergolong ikan ekonomis penting, jenis-jenis ikan karang konsumsi dan atau ikan demersal seperti ikan kerapu (Ephinephelus sp), ikan merah (bambangan), napoleon, kakap, kurisi, ekor kuning, kuro/senangin, biji nangka,/kuniran, gerot-gerot, gulamah, dan ikan bawal merupakan potensi yang cukup besar di perairan.
    Beberapa jenis ikan hias yang terdapat di Kepulauan Derawan juga menjadi komoditas ekspor yang sangat potensial untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. Beberapa jenis ikan hias yang menjadi komoditi ekspor unggulan diantaranya adalah: scorpion fish (Pterois sp), Baslets (Pseudantias sp), anemon fish (Amphiprion sp), wrasses (Bodianus sp & Coris sp), angel fish (Pamacanthus sp.) dan butterfly fish (Chaetodon sp.)

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan Kawasan Konservasi Laut Berau adalah karena kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga perlu dilindungi dan dikeloal secara berkesinambungan. Terlebih, kekayaan laut di gugusan Pulau Kakaban.

  • Hasil inventarisasi Dinas Pariwisata, Kabupaten Berau menunjukan 44 lokasi yang potensial untuk dijadikan obyek wisata. Jenis wisata yang paling banyak adalah wisata alam dengan daya tarik panorama bawah laut, rekreasi pantai, danau, hutan, goa-goa, dan lain yang terkonsentrasi di Kecamatan Pulau Derawan dan Biduk-biduk. Namun sayangnya lokasi pariwisata ini belum diikuti dengan kemudahan aksesbilitas yang menuju kesana, menyebabkan mahalnya biaya perjalanan. Disamping itu masih minimnya fasilitas penunjang lainnya.
    Wisatawan asing yang datang pada tahun 2000/2001 berjumlah 1.687 orang dan wisatawan domestik sekitar 7.500 orang. Wisatawan asing umumnya hanya menuju Pulau Derawan dengan target sasaran obyek wisata Pulau Derawan, Pulau Maratua dan Sangalaki.
    Danau Kakaban dipenuhi dengan berbagai organisme unik, baik flora maupun fauna. Pulau Kakaban mendapat kunjungan wisatawan terutama dari yang berada di sekitar seperti Sangilaki Dive Resort dan Nabucco Resort. Di samping itu, di Pulau Derawan, terdapat satu resort milik PT. Bumi Manimbora Interbuana (PT.BMI) selaku pelaksana pengelola pariwisata di daerah ini dan bebrapa penginapan milik masyarakat. Kebanyakan wisatawan yang datang untuk keperluan penyelaman dengan daya tarik utama adalah Danau Kakaban. Objek lainya adalah untuk melihat manta (Manta birostris), penyu hijau dan hewan - hewan kecil (micro creatures). Kendala utama wisatawan adalah masalah transportasi. Dari Tanjung Redeb ke Pulau Samama butuh waktu tempuh 3.5 jam pada kondisi cuaca baik dengan menggunakan speed boat. Kendala bagi wisatawan lokal adalah transpotasi reguler ke pulau butuh waktu tempuh 12 jam dan tidak setiap saat tersedia.

9697976
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1200
5419
1200
24963
153758
9697976

IP Anda: 18.232.186.117
Waktu Server: 2020-07-05 06:33:42

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com