Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Lampung
  • Lampung Barat
  • Kawasan Konservasi Laut Daerah Lampung Barat
  • SK Bupati Nomor : B/290/kpts/10-IV/2007

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 14,866.87
  • VI
  • 104005’55,92 LU - 104007’11,97” LS
  • 5029’51,30” - 5031’44,99” BT
  • Merah

  • 100 27 0 0 0
  • Topografi wilayahnya sebagian besar berupa dataran tinggi yang curam, daerah berbukit sampai bergunung yang merupakan bagian dari Bukit Barisan yang membentang dari Utara ke Selatan Sumatera.

  • images/FotoKawasan/Lampung Barat.jpg
  • Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten di ujung barat Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Barat dibentuk pada tanggal 24 September 1991 melalui UU No. 6 Tahun 1991. Kabupaten Lampung Barat memiliki ± 20% dari panjang pantai Provinsi Lampung.
    Dasar hukum penetapan wilayah perairan laut dan pesisir di Pekon Muara Tembulih, Sukanegara, Gedung Cahya Kuningan Kecamatan Ngambur dan Pulau Bertuah Kecamatan Bengkunat Belimbing sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Lampung Barat adalah SK Bupati No. B/290/kpts/10-IV/2007 yang dikeluarkan pada tanggal 27 Desember 2007. Tujuan pemanfaatan KKLD Lampung Barat untuk yang memiliki luas 14.866,87 Ha ini adalah sebagai berikut :
    (a) kawasan pesisir Pantai Muara Tembulih, Sukanegara, Gedung Cahya Kuningan Kecamatan Ngambur diprioritaskan untuk pelestarian penyu dan mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan dan ekowisata bahari; dan
    (b) kawasan Pulau Bertuah Kecamatan Bengkunat Belimbing untuk mendukung kegiatan pelestarian penyu, terumbu karang, perikanan berkelanjutan dan ekowisata bahari.

  • KKLD Kabupaten Lampung Barat terletak pada posisi 104005'55,92" LU - 104007'11,97" LS dan 5029'51,30" - 5031'44,99" BT ini memiliki luas kawasan sekitar 14.866,87 Ha. Topografi wilayahnya sebagian besar berupa dataran tinggi yang curam, daerah berbukit sampai bergunung yang merupakan bagian dari Bukit Barisan yang membentang dari utara ke selatan sumatera.

  • Ibukota Kabupaten Lampung Barat di Liwa, yang berjarak sekitar 330 km dari Bandar Lampung ibukota Propinsi Lampung dan dapat ditempuh melalui jalan darat sekitar 6 jam. Jalan akses dari Liwa menuju ke berbagai ibukota kecamatan di wilayah pesisir dengan mudah ditempuh melalui jalan darat beraspal yang merupakan jalan negara dan propinsi. Sedangkan aksesibilitas antar kecamatan yang terletak di wilayah pesisir mudah ditempuh, baik menggunakan alat transportasi darat melalui jalan negara yang kondisinya cukup baik maupun menggunakan alat transportasi luat (perahu, speed boat).

  • Daerah Lampung Barat memiliki dua tipe iklim yaitu: Tipe Iklim A di sebelah Barat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Tipe Iklim B di sebelah Timur Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kelembaban udara di daerah ini tergolong basah (udic) berkisar antara 50 - 80% dengan curah hujan tahunan yang tinggi, yaitu lebih dari 2.000 mm/tahun. Suhu berkisar dari panas (isohypothermic) pada dataran pantai (di bagian barat) sampai dingin (isimesic) di daerah perbukitan.

  • Pantai Barat Lampung berhadapan dengan perairan Samudera Hindia, memiliki kondisi yang curam. Gradasi kecuramannya mulai di bagian utara dan berkurang ke bagian selatan. Di perairan Pantai Barat, tipe pasang surut yang ditemui adalah campuran dengan dominasi pasang surut ganda. Iklim di perairan Pantai Barat dipengaruhi oleh Samudera Hindia yang dicirikan oleh adanya angin muson dan curah hujan yang tinggi sekitar 2.500 - 3.000 mm/tahun.
    Pantai Barat mempunyai gelombang yang paling besar di daerah Lampung, dan gelombang paling besar dapat terjadi di musim Barat. Suhu rata-rata bulanan di permukaan laut berkisar 28 - 29 0C dan salinitas antara 32,50 - 33,60 psu. Arus musim sepanjang tahun mengalir ke arah tenggara hingga barat daya. Kekuatan arus berkisar antara 1 cm/detik hingga 45 cm/detik. Pada musim barat (Nopember-Maret) arus mengalir secara tetap menuju ke arah tenggara dengan kecepatan 27 cm/detik hingga 45 cm/detik dan mencapai maksimum pada bulan Desember. Pada musim timur (April Oktober), kisaran kecepatan arus 1 cm/detik hingga 36 cm/detik dan mencapai kecepatan arus minimum pada bulan Juli berkisar antara 1 cm/detik hingga 5 cm/detik (Wiryawan et al., 2002).

  • Penutupan karang hidup di Pulau Pisang adalah 65,75%, yang didominasi karang api atau coral milepora (CME). Sedangkan genus coral lainnya adalah Acropora Sp, Millepora Sp, Fungia Sp, Ctenatis Sp, Montipora Sp, Pocillopora Sp, Porites Sp, Favites Sp, Galaxea Sp, Pavona Sp, Seriatopora Sp, dan Diploria Sp.
    Jenis Padang Lamun yang ditemukan hanya satu spesies yaitu Thalasodendrum Sp pada beberapa tempat di pesisir sebelah utara mulai Tanjung Setia, Krui, Pulau Pisang sampai Lemong. Di pesisir sebelah selatan tidak ditemukan Padang Lamun. Diperkirakan hal ini karena susbstrat dan kondisi perairan yang kurang cocok.
    Satwa-satwa penting yang ada di pesisir Lampung Barat adalah penyu, lumba-lumba, paus dan udang lobster. Penyu bisa ditemukan di hampir seluruh pesisir Lampung Barat. Jenis-jenis penyu yang bisa ditemukan adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Erethmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Sementara lumba-lumba dan paus diperkirakan ada di Samudera Hindia seperti lumba-lumba risso/abu-abu (Grampus griseus), lumba-lumba biasa (Delphinus delphis), paus sejati selatan (Eubalaena australis), paus biru (Balaenoptera musculus), paus bersirip (Balaenoptera physalis), lodan/paus kerdil (Kogia breviceps), paus cebol (Kogia simus), dan lumba-lumba pintal (Stenella longirostris) yang sering dekat pulau (Klinowska, 1991; Silalahi dan suwelo, 2003). Terdapat beberapa jenis udang lobster yang ditemukan dibeberapa tempat di Lampung Barat yaitu Udang Mutiara (Panulirus ornatus), Udang Batu (P. penicilatus), Udang Bambu (P. versicolor) dan Udang Hijau (P. homarus).
    Berdasarkan jumlah hasil tangkapan dan nilai ekonominya, jenis ikan yang menjadi target penangkapan antara lain: cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii), tuna mata besar (Thunnus obesus), tuna abu-abu (Thunnus tonggol), kakap sejati (Lates calcarifer), kakap merah (Lutjanus altifrontalis), setuhuk (Makaira mazara), setuhuk loreng (Tetrapturus mitsukurii), setuhuk hitam (Makaira indica), kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kerapu karang (Epinephelus heniochus Fowler), tenggiri (Scomberomorus commenson), tenggiri papan (Scomberomorus guttatus), baronang (Siganus javus), bawal putih (Pampus argenteus), albakora (Thunnus alalunga), madidihang (Thunnus albacores), tongkol (Euthynnus affinis), layaran (isthioporus oriental), layur (Trichiurus savala), ikan pedang (Xiphias gladius), kembung lelaki/banyar (Rastrelliger kanagurta), kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) dan belanak (Valamugil speigleri) , kemudian jenis ikan ekor kuning (Caesio erythrogaster), talang-talang (Chorinemus tala), terubuk (Hilsa toli) , japuh (Dussumieria acuta), lemadang (Coryphaena hippurus), ikan lidah (Cynoglossus lingua), tembang (Sardinella fimbriata), beloso (Saurida tumbil), julung-julung (Hemirhamphus far), gerot-gerot (Pomadasys macullatus), dan swangi mata besar (Priacanthus tayenus). Selain itu jenis ikan yang tercatat dari hasil tangkapan antara lain : layang, selar, cendro, pepetek, lencam, lemuru, kuro/senangin (Eletheronema tetradactylum), cucut (Carcharias dussmieri), mako, kurisi (Nemipterus nematophorus), bijinangka/kuniran (Upeneus sulphureus) dan ikan lainnya. Sedangkan hasil tangkapan jenis udang adalah udang putih (jerbung), udang krosok, udang barong/karang dan udang lainnya.

  • Jumlah penduduk Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2004 tercatat 388.113 jiwa yang tersebar di 176 desa dengan total luas wilayah 4.950,40 km2. Kepadatan penduduk rata-rata 78,40 orang/ km2 (BPS Lampung Barat, 2005). Penduduk di wilayah pesisir Lampung Barat sebagian besar berasal dari penduduk asli Lampung dan penduduk pendatang (Jawa, Bali dan Sunda).
    Etnis Lampung asli terbagi atas berbagai suku yang dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Peminggir, yang berkediaman di sepanjang pesisir, dan Pepadun yang berkediaman di daerah pedalaman Lampung. Suku Lampung asli di kabupaten Lampung Barat termasuk kelompok Peminggir dengan suku Lampung Krui-Ranau.
    Secara umum kondisi masyarakat di wilayah pesisir Pantai Barat Lampung Barat berpenduduk etnis Lampung, menggunakan bahasa pengantar harian dan adat istiadat lampung, serta sebagian besar bermatapencaharian di bidang pertanian (tanaman pangan dan perkebunan). Terutama di desa-desa pesisir yang dekat dengan pantai, sebagian penduduk bermatapencaharian sebagai nelayan penangkap ikan di laut.
    Masyarakat Lampung Barat disebut juga masyarakat Lampung Peminggir atau Sai Batin memiliki tata kehidupan dengan sistem patrilineal; harta pusaka, gelar, dan nama suku diturunkan menurut garis keturunan ayah. Suku bangsa asli yang mendiami wilayah Kabupaten Lampung Barat adalah keturunan dari kerajaan Skala Brak yang banyak mendapat pengaruh dari kerajaan Pagaruyung Sumatera Barat.

  • Mata pencaharian penduduk pesisir umumnya petani, sedangkan sebagian lainnya sebagai nelayan, pekebun dan petani ikan. Selain matapencaharian utama, umumnya masyarakat pesisir memiliki pekerjaan sampingan sebagai nelayan, petani, pedagang dan jasa. Penduduk yang bermatapencaharian nelayan terkonsentrasi paling banyak di wilayah pesisir kecamatan Pesisir Tengah (Teluk Krui), kemudian sebagian yang lainnya terkonsentrasi di Pulau Pisang dan sekitarnya (kecamatan Pesisir Utara), di wilayah pesisir desa Tanjung Setia, Biha dan sekitarnya di kecamatan Pesisir Selatan, serta di wilayah pesisir desa Pardasuka dan sekitarnya (kecamatan Bengkunat).
    Perekonomian Kabupaten Lampung Barat sampai saat ini, masih didominasi oleh peranan sektor pertanian yang mempunyai konstribusi sebesar 60,20%, sisanya adalah sektor pertambangan dan energi, perdagangan dan jasa. Perkembangan pertumbuhan lapangan usaha ini akan berdampak besar terhadap perekonomian Lampung Barat.
    Sementara itu, untuk kegiatan perikanan, pada tahun 2005, jumlah nelayan adalah sebanyak 1.554 rumah tangga/perusahaan (RTP) yang terdiri dari 456 RTP yang beroperasi menangkap ikan tanpa perahu, 800 RTP menggunakan jukung, 295 RTP menggunakan perahu dengan motor tempel, 1 RTP menggunakan kapal motor kapasitas 5-10 GT dan 2 RTP dengan kapal motor kapasitas 10-20 GT. Jumlah perahu/kapal sebanyak 1.159 unit terdiri dari jukung 821 unit, perahu motor tempel 335 unit, kapal motor 5-10 GT sebanyak 1 unit dan 2 unit Kapal Motor 10-20 GT. Alat Penangkapan Ikan sejumlah 6.268 unit (Statistik Perikanan Kabupaten Lampung Barat, 2005).

  • Pertumbuhan usaha perikanan laut di Kabupaten Lampung Barat tergolong rendah, hal ini terkait dengan peningkatan produksi yang relatif kecil. Padahal, potensi lestari perikanan (MSY) di perairan Pantai Barat teridentifikasi lebih dari 17.000 ton/tahun. Selain itu, sampai dengan tahun 2000, Izin Usaha Perikanan yang di terbitkan untuk pengumpulan udang dan ikan mencapai 13 buah. Kendala utama yang dihadapi bagi pengembangan usaha perikanan adalah kondisi dan ketersediaan sarana/armada penangkapan serta alat tangkap yang kurang mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap, sehingga hasil tangkapan belum dapat mencukupi kebutuhan pasar.
    Sementara itu, laporan Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Barat (2005) menyebutkan bahwa wilayah pesisir Pantai Barat Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi di bidang perikanan dan kelautan untuk pengembangan budidaya laut dan air payau. Untuk budidaya laut, lahan potensial yang dapat dimanfaatkan adalah pada perairan yang tertutup atau terlindung dari ombak besar, seperti perairan sekitar teluk. Perairan Pantai Barat masih memiliki kualitas air yang sangat baik dan mempunyai produktivitas yang tinggi, disamping jauh dari pencemaran oleh polutan pabrik dan rumah tangga.

    Peluang usaha budidaya laut yang dapat dikembangkan adalah budidaya ikan di keramba jaring apung dan budidaya rumput laut. Komoditas yang sangat potensial untuk dibudidayakan adalah teripang, kakap, kerapu dan baronang. Potensi budidaya air payau di Lampung Barat tercatat seluas 6.500 ha, tersebar di Kecamatan Pesisir Selatan dan Bengkunat 5.000 ha serta Pesisir Utara 1.500 ha yang diperuntukan bagi tambak.

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan Pekon Muara Tembulih, Sukanegara, Gedung Cahya Kuningan dan Pulau Betuah sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah adalah didasarkan banyaknya penyu yang bisa ditemukan di hampir seluruh pesisir Lampung Barat. Jenis-jenis penyu yang bisa ditemukan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Lekang dan Penyu Belimbing. Selain itu juga ditemukan lumba-lumba dan paus, meski belum ada informasi jenis lumba-lumba dan paus yang ditemukan dan arah migrasinya secara pasti.

  • Pantai Barat merupakan kawasan potensial dan terdapat berbagai lokasi wisata yang memiliki daya tarik terutama sebagai lokasi olahraga laut, misalnya memancing, menyelam, dayung, selancar, dan ski air. Lokasi dan obyek wisata tersebut tersebar di Kecamatan Lemong, Pesisir Utara, Pesisir Tengah, Karya Penggawa, Pesisir Selatan, dan Bengkunat. Selain obyek wisata bahari, terdapat juga obyek wisata budaya, antara lain:
    - Pesta Sakura, yang dilaksanakan untuk merayakan hari raya Idul Fitri, selain sebagai sarana hiburan acara ini juga sebagai ajang mencari jodoh untuk para muda-mudi. Pesta sakura ini di pusatkan di kenali (+ 20 km dari Liwa).
    - Nabuh Kelukup, kebiasaan menabuh (memukul) kelukup (kentongan raksasa) ini dilakukan pada setiap bulan puasa sebagai tanda waktu masuk sahur, suara kelukup yang cukup besar ini dapat terdengar hingga jarak 10 km, masyarakat yang sering menabuh kelukup ini berdomisili di daerah sekitar Kecamatan Balik Bukit dan Kecamatan Belalau.
    - Festival Teluk Stabas, kegiatan ini di lakukan rutin menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat. Di dalam kegiatan Teluk Stabas ini diadakan perlombaan budaya dan olahraga antara lain: Kebut Pesagi, Kebut Jukung (sampan), Pawai Budaya, Arung Jeram, dan lomba tarian adat tradisional.

Temukan kita :

1274050
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1310
1754
5101
52407
66741
1274050

IP Anda: 54.196.196.62
Waktu Server: 2014-07-29 19:45:36

Menurut anda, bagaimanakah potensi perikanan di Indonesia

Berlimpah - 48%
Berkurang - 36%
Habis - 8%
Tidak Tahu - 8%

Total votes: 25

Logo white