Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Sumatera Barat
  • Pariaman
  • TWP Pulau Pieh
  • Taman Wisata Perairan
  • 39,900.00
  • V
  • 000 45’ 10” – 010 03’ 08” LS
  • 990 59’ 36”- 1000 59’ 28” BT
  • Merah

  • 100 50 0 0 0
  • Pulau Pieh seluas ± 39.900 ha pada awalnya merupakan pulau yang dikelola secara turun temurun oleh keluarga “Basyiruddin” yang bertempat tinggal di Desa Ulakan Tengah, Kecamatan Tapakis Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Melalui proses panjang dengan surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Nomor 3354/Kwl-5/1994 tanggal 24 Nopember 1994 tentang usulan penetapan Kawasan Konservasi Laut Pulau pieh dan surat Gubernur Kepala Daerah Tk.I Sumatera Barat No.522.51/1903/ILH-1995 tanggal 10 Agustus 1995 tentang Usulan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Pulau Pieh keseluruhan proses ini sampai proses penunjukkan memakan waktu lebih dari 6 tahun. Kawasan Pulau Pieh ditujukan sebagai Taman Wisata Alam Laut berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 070/kpts-II/2000.

  • images/FotoKawasan/pulau pieh.jpg
  • Luas Perairan Sumatera Barat adalah 186.580 km2 dengan luas laut territorial 57.880 Km2 dan 128.700 Km2 perairan ZEEI, serta panjang garis pantai 2.420,4 Km. Luas laut Sumatera barat melebihi dua pertiga dari luas daratan yang dimiliki, juga memiliki pulau-pulau kecil dengan jumlah 185 pulau. Salah satu dari pulau tersebut adalah pulau pieh, yang masuk dalam daerah administrattif Kabupaten Padang Pariaman.
    Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya mempunyai potensi bahari dan biota laut yang perlu dilindungi dan dapat dikembangkan untuk pemanfaatan wisata bahari. Potensi yang dimiliki Pulau Pieh antara lain hamparan terumbu karang, topografi bawah laut yang unik, ikan karang, penyu, mangrove, biota lainnya pantai pasir putih dan air laut yang bening.
    Keunikan lainnya dari Pulau Pieh yaitu daerah daratan di tengah pulau yang berupa lahan rawa yang langsung berhubungan dengan laut, dimana ketinggian air yang terdapat di rawa-rawa ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Daerah ini dapat dikembangkan sebagai aquarium alam yang sangat menarik bagi wisatawan.
    Berdasarkan kondisi di atas Kawasan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan dan perkebunan RI sebagai Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) berdasarkan Surat Keputusan No. 070/Kpts-II/2000 tanggal 28 Maret 2000 dengan luas kawasan 39.900 hektar. Penentuan status TWAL tersebut berdasarkan kriteria penentuan kawasan konservasi laut yang memiliki keanekaragaman biota laut dan lingkungan yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata.
    Saat ini Pengelolaan Pulau Pieh dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan berita acara serah terima no: BA.01/menhut-IV/2009 dan No BA. 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 maret 2009 dengan nama Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di sekitarnya (TWP Pulau Pieh).
    Kawasan konservasi perairan dengan fungsi Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di sekitarnya, terdiri dari beberapa pulau, yaitu pulau Bando, Pulau Pieh, Pulau Air, Pulau Toran dan Pulau Pandan. Kawasan ini memiliki luas 39.900 Ha dan telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP. 70/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Pulau Pieh dan laut di sekitarnya di provinsi Sumatera Barat. Pulau Pieh dan laut disekitarnya ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan (TWP).

  • Secara geografis Pulau Pieh berada pada posisi 990 59’ 36”- 1000 59’ 28” BT sampai dengan 000 45’ 10” – 010 03’ 08” LS, jaraknya dari daratan Kabupaten Padang Pariaman ± 17 mil, yang dapat ditempuh dengan kapal motor selama 2 Jam. Sedangkan secara administrative wilayah ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan ulakan tapakis yang merupakan pecahan dari kecamatan nan sebaris Kabupaten Padang Pariaman dengan batas-batas kawasan sebagai berikut :
    a. Sebelah Utara Perbatasan dengan Samudera Indonesia.
    b. Sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia.
    c. Sebelah Barat dengan samudera Indonesia dan
    d. Sebelah Timur dengan daratan Sumatera.
    Selain Pulau Pieh, Pulau bando Juga merupakan bagian dari TWP, pulau ini berada di wilayah administrasi kabupaten padang pariaman. Sedangkan Pulau Air masuk dalam wilayah kota padang. Jarak TWP Pulau Pieh dari daratan (Kota Padang) ± 22 mil laut.

  • Berdasarkan data dari Loka KKPN pekanbaru bahwa kawasan Taman Wisata Perairan Pulau Pieh ditempuh melalui jalan laut dengan kapal motor yang berkekuatan 33 HP (rata-rata kecepatan 7 knot) sekitar 2.5 jam. Jaraknya dari daratan kota padang sekitar 29 mil. Dengan jarak terdekat ke kota Padang 16.75 km dan jarak terjauh 50,6 km sedangkan jarak terdekat ke daratan pulau sumatera adalah 28 km.
    TWP Pulau Pieh dan laut sekitarnya dapat ditempuh dengan kapal speed dari pelabuhan Muara Padang dengan waktu tempuh ½ jam dan bisa juga melalui Pelabuhan TPI kota pariaman yang memakan waktu 1 ½ jam dengan menggunakan kapal. Jarak antara kota padang ke pelabuhan Muara menghabiskan waktu ½ jam, sedangkan jarak bandara ke kota pariaman menghabiskan waktu sekitar 1 ½ jam perjalanan darat.

  • Suhu udara tercatat antara 260 – 290C, suhu maksimum 31,430C sedangkan suhu minimum 22,600C. Temperatur terpanas jatuh pada bulan Mei dan suhu terendah pada bulan Desember. Kecepatan angin berkisar antara 1,0-1,7 knot.
    Curah hujan rata-rata mencapai 4.200,5 mm/tahun, dan kelembaban udara cukup tinggi yaitu sebesar 80%. Curah hujan berkisar antara 2.500-77—mm/tahun dengan jumlah hari hujan antara 132-267 hari hujan/tahun, sedangkan suhu berkisar antara 220 – 310C dengan kelembaban udara 82-85%.

  • Topografi Pulau Pieh dan Pulau Bando adalah datar dengan ketinggian hampir sejajar dengan permukaan laut. Pada bagian tengah Pulau Pieh agak rendah berupa rawa yang airnya sangat tergantung pasang surut laut. Bagian timur agak landai dan di sebelah selatan sangat curam, dengan ketinggian 1,5 m dpl.
    Topografi pantai dengan pulau ini umumnya datar dan berpasir putih; dengan kedalaman perairan pantai 1 – 3 meter pada batas 70 meter. Rataan terumbu di sekeliling Pulau Pieh dari Timur-Selatan berbentuk drop 700-900. Antara Timur-Selatan terdapat drop yang diperkirakan sudut kemiringannya 1000 (wall) hal mana merupakan keunikan tersendiri dari Pulau Pieh. Di bagian tengah pulau ini terdapat hutan rawa nypa yang beradaptasi dengan kondisi pasang surut permukaan air laut, kondisi ini menarik untuk diteliti dan dipelajari lebih lanjut.
    Salinitas perairan Pulau Pieh berkisar antara 33-34%, suhu perairan berkisar antara 28-320C. Kondisi Salinitas dan suhu tersebut cukup bagus bagi pertumbuhan terumbu karang.
    Angin dan gelombang di perairan Padang Pariaman sangat dipengaruhi oleh angin dari Samudera Hindia dengan ketinggian gelombang maksimum 3 meter yang terjadi pada bulan Juli dan Desember. Secara umum pola sirkulasi air diperairan pantai Kabupaten Padang Pariaman bergerak dari arah utara-barat laut kearah tenggara, sejajar dengan Orientasi pantai. Pola ini hampir berlangsung tetap sepanjang tahun, kecuali pada bulan Agustus arus bergerak kearah sebaliknya.

  • Terumbu Karang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Fungsi ekologisnya antara lain sebagai tempat pemijahan, pembesaran, tempat mencari makan, terumbu karang juga dipandang penting karena produk yang dihasilkan seperti ikan karang, ikan hias, udang, alga dan bahan-bahan bio-aktif.
    Berdasarkan hasil pengambilan data Loka KKPN Pekanbaru (2009) kondisi terumbu karang berada pada status jelek dengan nilai rata-rata tutupan karang sebesar 4%, nilai tersebut terdiri dari 1% Acropora dan 3% Non Acropora sebagian kawasan yang diamati ditumbuhi oleh Alga, 10,5% ditutupi oleh pasir, sementara sisanya ditutupi oleh Rubbie dan Sponge.

  • Disamping terumbu karang perairan Pieh juga sangat kaya dengan ikan karang, baik berupa ikan hias, maupun ikan konsumsi. Ikan hias laut di kawasan Pieh ini cukup potensial untuk didayagunakan, khususnya bagi wisata bawah air maupun objek penelitian.
    Disamping ikan di Pieh juga dapat ditemui penyu, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Pualu Pieh merupakan lokasi bertelurnya penyu-penyu tersebut. Penyu ini bertelur pada malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00.

  • Implementasi Prinsip-prinsip ecotourisme dalam pengembangan pariwisata alam perairan di kawasan konservasi sejalan dengan paradigma yang saat ini sedang dikembangkan. Pengelolaan dan pengusahaan pariwisata bukan hanya pada penanganan kawasannya saja, melainkan memperhatikan pula aspek-aspek sosial, ekonomi dan budaya masyarakat disekeliling kawasan. Hal ini didasari oleh suatu persepsi, bahwa tujuan utama pengelolaan kawasan tersebut adalah untuk kesejahteraan dan kepentingan masyarakatnya. Demikian pula halnya dengan pengelolaan kawasan, yang semula menjadi subyek, diharapkan menjadi mediator, fasilitator dan pendamping dalam implementasi upaya konservasi.
    Dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi, kelemahan yang bersifat teknis dan/atau non-teknis sampai saat ini masih terasa melekat kehadirannya. Dalam pengelolaan Taman Wisata Perairan Pulau Pieh, dan laut sekitarnya, beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain;
    1. Mutu dan jumlah sarana prasarana pengelolaan masih belum sebanding dengan kinerja yang dituntut, terutama sarana prasarana pengamanan kawasan, seperti kantor pondok kerja, pos jaga, kendaran roda-2, speed boat alokasi sarana prasarana tersebut belum ada.
    2. Minimnya kuantitas sumberdaya pengelola dan kurangnya pendidikan dan pelatihan di bidang perencanaan, penyelenggaraan dan pemantauan ecotourism sehingga sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk mengelola kegiatan pariwisata alam masih terbatas.
    3. Belum adanya kesamaan persepsi dan pengetahuan diantara pengelola kawasan dan penyelenggara wisata dalam pengembangan pariwisata alam yang berlandaskan prinsip-prinsip ecotourism dan pengertian konservasi yang dinamis sesuai kebutuhan dan tantangan
    4. Masih rendahnya koordinasi diantara parav pelaku pariwisata baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas mengembangan pariwisata alam yang bernafaskan ecotourism;
    5. Kegiatan perusahaan yang sudah ada sekarang ini belum mengacu pada prinsipprinsip ecotourism (konservasi,edukasi, keterlibatan masyarakat dan ekonomi);
    6. Belum terlibatnya secara penuh dan langsung masyarakat sekitar kawasan dalam kegiatan pengembangan pariwisata;
    7. Terbatasnya sarana prasarana penunjang kegiatan ecotourism sesuai dengan potensi yang ada;
    Untuk mencapai tujuan pengelolaan, maka kepada investor diberikan batasan kegiatan yang diizinkan seperti :
    1. Konservasi
    2. Budidaya laut seperti ; mutiara, ikan kerapu, kima raksasa, lobster dan teripang.
    3. Ekowisata dan
    4. Basis area penangkapan ikan.

7021892
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
953
2920
13293
49159
147568
7021892

IP Anda: 54.91.203.233
Waktu Server: 2018-11-15 09:01:22

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com