Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Bintan
  • SK Bupati No. 261/VIII/2007 Tgl 23 Agustus 2007

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 472,905.00
  • VI
  • 106021’00” – 107059’00” LU
  • 0050’00”- 1021’00" BT
  • Merah

  • 100 73 0 0 0
  • images/FotoKawasan/KKLDBintan.jpg
  • Kecamatan Tambelan merupakan wilayah terjauh Kabupaten Bintan. Daerah ini merupakan suatu gugusan pulau yang terletak di tengah laut Natuna dan berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Tambelan memiliki keanekaragaman potensi terumbu karang yang cukup tinggi, akan tetapi rentan terhadap penghancuran menggunakan alat peledak dari nelayan luar daerah.
    Dasar hukum penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Bintan adalah SK Bupati Bintan No. 261/VIII/2007 yang dikeluarkan pada tanggal 23 Agustus 2007. KKLD yang memiliki luas 479.905 Ha tersebut diprioritaskan untuk mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan dan parwisata bahari.

  • Kecamatan Tambelan yang merupakan daerah kepulauan terletak pada posisi geografis 106021'00" - 107059'00" LU dan 0050'00" - 1021'00" BT, memiliki luas kawasan sekitar 356.905,00 Ha. Daerah ini berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan pada bagian utara dan selatan, sedangkan pada bagian barat berbatasan dengan Kecamatan Bintan Timur, dan bagian timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat.

  • Ibukota Kecamatan Tambelan berada di Desa Kampung Kukup. Sementara lima desa yang terdapat di Kecamatan Tambelan, jaraknya berdekatan sehingga waktu tempuh dari desa terjauh ke ibukota kecamatan sekitar 15 menit melalui jalur darat, dan jalur laut untuk Desa Pulau Pinang dan Desa Pulau Mentebung.

  • Kepulauan Tambelan beriklim tropis dengan suhu rata-rata 290C - 300C, dimana suhu minimum 28,920C dan suhu maksimum 30,260C. Karena berada diantara Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, maka pengaruh lautan sangat berperan besar dalam kehidupan. Selain itu, karena daerah ini berada di sekitar khatulistiwa sehingga Kepulauan Tambelan dipengaruhi oleh angin equator.

  • Kondisi arus perairan kepulauan Tambelan sangat dipengaruhi oleh keadaan topografi Pulau Tambelan, dengan arah arus mengikuti bentuk pulau menuju arah selatan dan utara dengan kecepatan arus antara 500-1.000 mm/detik. Suhu permukaan berkisar antara 9,16 - 30,260C dengan rata-rata suhu 290C (CRITC-LIPI, 2006). Sementara salinitas rata-rata perairan Pulau Tambelan sekitar 33,06 ppt, dengan kondisi pH berkisar antara 8,17 - 8,45.

  • Ekosistem mangrove yang dapat ditemukan dihampir seluruh wilayah Kecamatan Tambelan dengan luasan hutan mangrove sekitar 3.544,8 km2 dan ketebalan hutan mangrove berkisar antara 5 meter - 500 meter. Spesies ekosistem mangrove yang dapat ditemukan diantaranya adalah Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorhiza, Soneratia alba, Rhizopora stylosa, Xylocarpus mluccensis, Rhizopora apiculata, Lumnitzera littorea, Heritiera litoralis, Ceriops tagal, dan Excoecaria agallocha. Gugusan terumbu karang di Kepulauan Tambelan merupakan terumbu karang tepi (fringing reefs) dan taka (gosong), dengan rataan berkisar 31.261,8 km2. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 181 jenis karang batu yang termasuk ke dalam 18 suku. Sementara itu, tutupan karang hidup berkisar 10%-90% dengan rata-rata 47,39% sehingga diperkirakan luasan karang hidup mencapai 14.815 km2. Jenis ikan karang yang ditemukan di perairan ini antara lain Pomacentrus moluccensis, Lutjanus decussates, Amblyglyphidodon curacao, Chaetodon octofaciatus, Paraglyphidodon nigrosis, Abudefduf sexfaciatus, Thalassoma lunare. Selain itu, megabenthos yang ditemukan yaitu Acanthaster planci, Diadema setosum, dan kima.

  • Jumlah penduduk Kecamatan Tambelan pada tahun 2006 adalah 4.514 jiwa atau 1.258 KK, yang terkonsentrasi pada tujuh desa, yaitu Desa Kampung Kukup, Kampung Hilir, Kampung Melayu, Batu Lepuk, Teluk Sekuni, Pulau Pinang, dan Pulau Mentebung.
    Di Kecamatan Tambelan, tersedia sarana dan prasarana seperti fasilitas pendidikaan, fasilitas kesehatan, infrastruktur transportai darat dan laut, fasilitas komunikasi, fasilitas penunjang ekonomi, sumber penerangan, dan fasilitas keamanan.
    Kesenian rakyat yang terdapat di Kecamatan Tambelan berupa pencak silat dan tari japin. Sedangkan beberapa acara tradisional yang masih dijalankan adalah upacara tepung tawar pada pesta pernikahan, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Besaman yaitu upacara buang hantu/tolak bala yang dilakukan apabila terjadi suatu bencana di masyrakat.
    Penduduk Kepulauan Tambelan hampir 90% beragama Islam, dengan komposisi etnis penduduk berasal dari etnis Melayu, Cina, Jawa, Bugis, Buton, Flores, dan Batak. Mayoritas penduduk berasal dari etnis Melayu, sehingga orientasi budaya yang ada lebih banyak diwarnai oleh nilai-nilai agama Islam.

  • Berdasarkan data Bappeda Bintan tahun 2007, mata pencaharian masyarakat Tambelan didominasi oleh nelayan, yaitu sebesar 83,67%. Sementara urutan kedua adalah petani sebesar 7,14%, profesi buruh nelayan sebesar 5,1%, profesi buruh tani sebesar 2,04%, profesi tukang sebesar 1,02%, dan sisainya yang bekerja di bidang profesi lainnya sebesar 1,01%.
    Untuk kegiatan perikanan tangkap, jumlah nelayan pada tahun 2007 mencapai 773 orang dengan alat tangkap pancing ulur, pancing tonda, payang, bubu, dn jaring. Namun demikian, tipe perikanan tangkap kepulauan Kecamatan Tambelan dikategorikan perikanan tradisional menuju industri. Meskipun sebagian besar menggunakan alat tangkap tradisional, namun hasil tangkapannya sebagian besar diperuntukan bagi komodits ekspor. Pada tahun 2005, prduksi total ikan laut sebesar 16.907,44 ton dengan nilai produksi dalam rupiah sebesar Rp 23.655.543.000 (BPS Kabupaten Bintan, 2006).
    Untuk kegiatan perikanan budidaya, masyarakat Kecamatan Tambelan mengembangkan usaha budidaya kerapu macan melalui metode keramba jaring apung.

  • Kegiatan penangkapan yang dilakukan masyarakat kepulauan Kecamatan Tambelan di sekitar perairan pantai, sehingga ikan-ikan yang tertangkap adalah ikan karang dan ikan pelagis kecil, seperti bawal hitam, ekor kuning, kakap merah, kerapu, mayok, pari, selar, tengiri, dan tongkol putih.

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan wilayah perairan Kepulauan Tambelan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah adalah didasarkan tingginya keanekaragaman potensi terumbu karang, namun dihadapkan pada rentannya terhadap penggunaan alat peledak dari nelayan luar daerah.

  • Pantai Lagoi, terletak di Kecamatan Bintan Utara memiliki pemandangan alam yang indah dan kondisi lingkungan yang bersih. Pengunjung dapat berenang, berendam dan menyelam keindahan dasari perairan pantai.Tempat wisata yang telah dikembangkan di Lagoi adalah Kawasan Wisata Terpadu Eksklusif Lagoi, Pantai Sebong Pereh, dan Desa wisata Sebong Pereh yang menawarkan wisata bahari.
    Pulau Bintan tidak hanya terkenal dengan Pantai Lagoi, akan tetapi tempat tempat wisata lain mulai dari wisata alam, wisata ekologi, wisata budaya, serta wisata sejarah. Alternatif wisata yang ada seperti Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora dan perkampungan Nelayan Kawal, pantai-pantai di Pulau Kecil di Sekitar Pulau Bintan, dan Bintan Leisure Park, serta Air Terjun Gunung Bintan, Goa Gunung Bintan, dan Danau Bekas Galian Bouksit Alam Tirta di kecamatan Teluk Bintan.

8639374
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
3280
6721
10001
51019
153895
8639374

IP Anda: 18.205.60.226
Waktu Server: 2019-12-09 14:25:50

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com