Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Papua Barat
  • SAP Kep Raja Empat
  • Suaka Alam Perairan
  • 60,000.00
  • IV
  • 0014’18” - 0025’29” LS
  • 130018'32" – 130010’29” BT
  • Merah

  • 100 73 0 0 0
  • images/FotoKawasan/KKLD-Raja-Ampat1.jpg
  • Perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) pada 3 September 2009 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor Kep.64/Men/2009. Keputusan ini menetapkan perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di sekitarnya sebagai Suaka Alam Perairan (SAP).
    Kepulauan Raja Ampat secara administratif berada di bawah pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.
    Kabupaten yang dibentuk melalui UU Nomor 26 Tahun 2002 tersebut merupakan daerah otonom baru hasil pemekaran Kabupaten Sorong. Raja Ampat ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) karena memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang tinggi berupa terumbu karang, mangrove, litoral dan rumput laut. Wilayah ini terletak di ‘jantung’ kekayaan terumbu karang dunia yang dikenal dengan sebutan Segitiga Karang/Coral Triangle. Kepulauan ini merupakan salah satu kawasan yang memiliki fauna ikan karang terkaya di dunia yang terdiri dari paling sedikit 1,074 spesies serta merupakan areal pembesaran bagi sebagian besar jenis penyu yang terancam punah.

  • Secara geografis, kawasan Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat
    dan Laut di Sekitarnya terletak pada 0º14’18’’BT - 0º25’29’’LS dan 130º18’32’’ - 130º10’29’’BT.
    Sementara secara administratif, wilayah ini masuk ke dalam Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.
    Kawasan Suaka Alam Perairan Raja Ampat dan Laut Sekitarnya memiliki batas-batas sebagai berikut;
    • Sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Waigeo;
    • Sebelah Selatan berbatasan dengan perairan Kepulauan Fam;
    • Sebelah Timur berbatasan dengan perairan Pulau Gam; dan
    • Sebelah Barat berbatasan dengan perairan Pulau Batangpele dan Pulau Maijafun.

  • Sebagai daerah kepulauan yang memiliki 610 pulau, perangkat transportasi yang menunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut.
    Untuk menjangkau ibukota Raja Ampat, Waisai misalnya, pengunjung harus lebih dulu menuju Kota Sorong dengan pesawat. Setelah itu, dari Sorong perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan transportasi laut. Sarana yang tersedia adalah kapal cepat juga tersedia kapal laut reguler setiap hari.. Waisai dapat dijangkau dalam waktu 1,5 hingga dua jam. Dari Waisai menuju SAP Raja Ampat dapat ditempuh dengan speed boat + 1,5 jam.
    Raja Ampat bisa dicapai dari Jakarta dengan penerbangan ke Sorong selama 6 (enam) jam via Manado. Beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini adalah Silk Air, Garuda Indonesia, Pelita Air dan Merpati.

  • Perairan Kabupaten Raja Ampat dipengaruhi oleh iklim tropis dan perubahan iklim muson. Pada Mei-November umumnya bertiup angin pasat Tenggara sedangkan pada Desember-April bertiup angin Barat Laut.
    Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Sorong, Kepulauan Raja Ampat mempunyai curah hujan rata-rata 2512 mm per tahun, dengan curah hujan tertinggi pada Juli yakni 298 mm dan jumlah hari hujan 19 hari. Suhu udara maksimum rata-rata 31,250C dan minimum rata-rata 25,120C dengan kelembaban rata-rata 81,5 %.

  • Karakteristik fisik perairan Kepulauan Raja Ampat memungkinkan kawasan ini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi sejumlah biota perairan khususnya terumbu karang. Kedalaman perairan yang relatif dangkal, kejernihan air dan intensitas keterpaparan cahaya matahari yang cukup, menjadikan perairan Raja Ampat sebagai habitat yang baik untuk komunitas karang. Kecerahan di perairan Raja Ampat berkisar antara 4 - 23 m dengan rata-rata kecerahan 12,91 m. Kecerahan terrendah berada di Teluk Mayalibit yang hanya mencapai 4 - 5 m. Hal ini karena tingginya tingkat kekeruhan perairan di Teluk Mayalibit yang disebabkan banyaknya bahan tersuspensi. Sedangkan kecerahan maksimum berada di perairan daerah Kofiau yang mencapai 23 m. Hal ini diperkirakan karena lokasi ini berada pada kawasan perairan bebas (cukup jauh dari daratan) sehingga pengaruh bahan-bahan tersuspensi yang berasal dari aktifitas daratan sangat kecil.

  • Raja Ampat kaya akan ekosistem terumbu karang, ikan dan biota laut lainnya, lamun dan manggrove. Kepulauan Raja Ampat memiliki terumbu karang yang sangat indah dan sangat kaya akan berbagai jenis ikan dan moluska.
    Berdasarkan hasil penelitian tercatat 537 jenis karang keras (CI, TNC-WWF), 9 diantaranya adalah jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75 % karang dunia. Berdasarkan indeks kondisi karang, 60 % kondisi karang di Kepulauan Raja Ampat dalam kondisi baik dan sangat baik.
    Ekosistem terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat terbentang di paparan dangkal di hampir semua pulau-pulau, namun yang terbesar terdapat di distrik Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Ayau, Samate dan Misool Timur Selatan. Tipe terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Raja Ampat umumnya berupa karang tepi (fringe reef), dengan kemiringan yang cukup curam. Selain itu terdapat juga tipe terumbu karang cincin (atol) dan terumbu penghalang (barrier reef).
    Menurut pendataan TNC-WWF, di wilayah ini tercatat sekitar 899 jenis ikan karang sehingga Raja Ampat diketahui mempunyai 1104 jenis ikan yang terdiri dari 91 famili. Diperkirakan jenis ikan di kawasan Raja Ampat dapat mencapai 1346 jenis. Berdasarkan fakta tersebut, kawasan ini menjadi kawasan dengan kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Selain itu dikawasan ini juga ditemukan 699 jenis hewan lunak (jenis moluska) yang terdiri atas 530 siput-siputan (gastropoda), 159 kerang-kerangan (bivalva), 2 Scaphoda, 5 cumi-cumian (cephalopoda), dan 3 Chiton.
    Sementara itu, populasi padang lamun hampir tersebar di seluruh Kepulauan Raja Ampat. Padang lamun tersebar di sekitar Waigeo, Kofiau, Batanta, Ayau, dan Gam. Padang lamun yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat umumnya homogen dan berdasarkan ciri-ciri umum lokasi, tutupan, dan tipe substrat, dapat digolongkan sebagai padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu karang. Tipe ini umumnya ditemukan di lokasilokasi di daerah pasang surut dan rataan terumbu karang yang dangkal. Jenis lamun yang tumbuh baik di kawasan tersebut antara lain jenis Enholus acoroides, Thoiossio hemprichii, Holophilo ovolis, Cymodoceo rotundoto, dan Syringodium isoetifoiium.

  • Sebagaimana umumnya penduduk di wilayah kepulauan, sebagian besar (54 persen) masyarakat Raja Ampat mempunyai pekerjaan utama dibidang perikanan, khususnya perikanan tangkap. Ditinjau dari alat tangkap yang digunakan kegiatan perikanan tangkap yang dilakukan oleh penduduk dapat dikategorikan sebagai nelayan tradisional. Alat tangkap pancing dasar dan tonda merupakan jenis alat tangkap yang dominan terdapat di Raja Ampat dan jenis tersebut juga tersebar hampir di setiap distrik.
    Untuk wilayah dengan daratan yang tidak terlalu luas seperti Ayau, Arborek, Mutus, dan Wejim, umumnya penduduk setempat bermata pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk daerah yang mempunyai daratan yang cukup luas mayoritas berprofesi sebagai petani seperti di kawasan Kabare dan Bonsayor. Meski demikian, tidak sedikit di antara penduduk yang bermatapencaharian ganda yakni sebagai petani dan nelayan. Profesi ganda tersebut dilakukan berdasarkan musim yang berlangsung. Pada saat musim angin selatan mereka bertani dan di luar musim itu mereka melaut untuk mencari ikan.
    Penduduk setempat kebanyakan pemeluk Islam dan Kristen. Mereka seringkali berada di dalam satu keluarga/marga. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun walaupun berbeda keyakinan.
    Bahasa yang digunakan penduduk Raja Ampat bervariasi sebagai berikut :
    1. Bahasa Ma’ya; yaitu bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Wawiyai (Teluk Kabui), suku Laganyan (Kampung Araway, Beo dan Lopintol) dan suku Kawe (Kampung Selpele, Salio, Bianci dan Waisilip).
    2. Bahasa Ambel (-Waren); yaitu bahasa yang digunakan oleh penduduk yang mendiami beberapa kampung di timur Teluk Mayalibit, seperti Warsamdin, Kalitoko, Wairemak, Waifoi, Go, dan Kabilol, serta Kabare dan Kapadiri di Waigeo Utara.
    3. Bahasa Batanta. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat yang mendiami sebelah selatan Pulau Batanta, yaitu penduduk Kampung Wailebet dan Kampung Yenanas.
    4. Bahasa Tepin. Bahasa ini digunakan oleh penduduk di sebelah utara ke arah timur Pulau Salawati, yaitu penduduk di Kampung Kalyam, Solol, Kapatlap, dan Samate, dengan beberapa dialek yaitu, dialek Kalyam Solol, Kapatlap dan Samate.
    5. Bahasa Moi. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan oleh penduduk di Kampung Kalobo, Sakabu, dan sebagian Kampung Samate. Bahasa Moi yang dipakai di Salawati merupakan satu dialek bahasa Moi yang berasal dari daratan besar sebelah barat wilayah Kepala Burung, yang berbatasan langsung dengan Selat Sele.
    6. Bahasa Matbat. Istilah Matbat merupakan nama yang diberikan untuk mengidentifikasikan penduduk dan bahasa asli Pulau Misool. Orang asli Misool disebut orang Matbat dan bahasa mereka disebut bahasa Matbat. Penduduk yang merupakan penutur asli bahasa Matbat ini tersebar di Kampung Salafen, Lenmalas, Atkari, Folley, Tomolol, Kapatcool, Aduwei, dan Magey.
    7. Bahasa Misool. Sebutan ini diberikan oleh penduduk Misool yang berbahasa Misool sendiri. Bahasa Misool ini berbeda sekali dengan bahasa Matbat. Orang yang menggunakan bahasa Misool ini dipanggil dengan sebutan Matlou oleh orang Matbat, yang berarti orang pantai.
    8. Bahasa Biga. Bahasa ini adalah salah satu bahasa migrasi yang berada di sebelah tenggara Pulau Misool, yang digunakan oleh penduduk yang mendiami Kampung Biga di tepi Sungai Biga (Distrik Misool Timur Selatan). Penduduk dan bahasa ini diperkirakan bermigrasi dari Pulau Waigeo, yaitu dari Kampung Kabilol, yang berbahasa Ambel. Peneliti perlu mengadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah bahasa Biga memiliki kemiripan dengan bahasa Ambel.
    9. Bahasa Biak. Bahasa Biak di Raja Ampat merupakan bahasa yang bermigrasi dari Pulau Biak dan Numfor bersamaan dengan penyebaran orang Biak ke Raja Ampat. Bahasa Biak ini dibagi menjadi beberapa dialek, yaitu Biak Beteu (Beser), Biak Wardo, Biak Usba, Biak Kafdaron, dan Biak Numfor. 10. Bahasa-bahasa lain. Dengan arus migrasi penduduk dari Kepulauan Maluku dan wilayah bagian barat lainnya, maka terdapat juga beberapa bahasa yang dipakai oleh penduduk pendatang di Raja Ampat seperti bahasa Ternate, Seram, Tobelo, Bugis, Buton, dan Jawa. Bahasa-bahasa ini merupakan bahasabahasa minoritas karena penuturnya tidak terlalu banyak.

  • Sebagian besar penduduk di Kabupaten Raja Ampat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan (sekitar 80%) dan petani. Disamping itu juga terdapat pedagang, pengusaha kayu, pegawai negeri sipil, guru, tokoh agama dan pencari kerja. Mata pencaharian sebagai nelayan merupakan mata pencaharian pokok yang dianggap memberikan hasil bagi penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan penangkapan ikan ini dilakukan, baik pada siang hari maupun malam hari dan umumnya masih secara tradisional.
    Meskipun penduduk di Kabupaten Raja Ampat mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, namun potensi perikanan yang begitu besar masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang sangat sederhana sehingga kalah bersaing dengan kapal nelayan asing yang beroperasi di wilayah tersebut. Pada tahun 2000 tercatat sekitar 2.400 kapal asing yang beroperasi di perairan Raja Ampat dan sekitarnya.

  • Terdapat 537 jenis karang keras, dimana 9 diantaranya merupakan jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75% karang dunia (CI, TNCWWF). Di wilayah ini terdapat sekitar 899 jenis ikan karang, sementara di seluruh wilayah Raja Ampat tercatat 1.104 jenis ikan, dimana terdiri dari 91 famili. Diperkirakan terdapat 1.346 jenis ikan di seluruh kawasan Raja Ampat, sehingga menjadikan kawasan ini sebagai kawasan dengan kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Selain itu, di kawasan ini juga ditemukan 699 jenis hewan lunak (jenis molusca) yang terdiri atas 530 siputsiputan (gastropoda), 159 kekerangan (bivalva), 2 scaphoda, 5 cumi-cumian (cephalopoda), dan 3 chiton.

  • Raja Ampat mengandalkan wisata bahari sebagai tulang punggung sektor pariwisata. Keanekaragaman hayati yang tinggi dan pemandangan alam yang luar biasa menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Raja Ampat. Para wisatawan biasanya tinggal di resort yang ada di Waigeo Selatan (P. Mansuar) namun sebagian besar tinggal di atas kapal (liveaboard) dengan lama tinggal 10 sampai 21 hari.
    Wisatawan asing banyak yang tinggal di atas kapal (liveaboard) karena mereka mengikuti paket kunjungan (paket liveaboard) yang disediakan perusahaan penyedia jasa pariwisata. Musim kunjungan wisatawan liveaboard ke Raja Ampat adalah mulai dari bulan September sampai bulan Mei setiap tahunnya. Liveaboard yang beroperasi di Raja Ampat berjumlah 18 kapal dan yang sudah resmi terdaftar/melapor kepada Dinas Pariwisata sebanyak 10 kapal. Hampir semua perusahaan/operator liveaboard ini berbasis di luar Sorong dan Raja Ampat.
    Sejumlah potensi wisata lain yang juga dapat dikembangkan di Raja Ampat antaralain tersebar di beberapa kawasan :
    1). Kepulauan Ayau
    Kepulauan ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di atas kawasan atol yang sangat luas. Pantai-pantai di kepulauan ini berpasir putih dengan areal dasar laut yang luas yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lain. Di kepulauan ini terdapat pulau-pulau pasir yang unik, masyarakat setempat menyebutnya zondploot, dan di atasnya tidak terdapat tumbuhan/vegetasi. Jenis wisata yang dapat dikembangkan di Kepulauan Ayau adalah keunikan kehidupan suku dan budaya yang berupa penangkapan cacing laut (insonem) yang dilakukan secara bersama-sama oleh ibu-ibu dan anak-anak, mengunjungi tempat peneluran penyu hijau, dan wisata dayung tradisional dengan perahu karures.
    2). Waigeo Utara
    Di Waigeo Utara terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan lokasi wisata yaitu goa-goa peninggalan perang dunia II dan keindahan bawah laut.
    3). Waigeo Timur
    Di sini, khususnya di depan Kampung Urbinasopen dan Yesner terdapat atraksi fenomena alam yang sangat menarik dan unik yang hanya bisa disaksikan setiap akhir tahun, yaitu cahaya yang keluar dari laut dan berputar-putar di permukaan sekitar 10-
    18 menit, setelah itu hilang dan bisa disaksikan lagi saat pergantian tahun berikutnya. Masyarakat di kedua kampung ini menamakan fenomena
    ini sebagai “Hantu Laut”.
    4). Teluk Mayalibit
    Lokasi wisata Teluk Mayalibit cukup unik, karena merupakan sebuah teluk yang cukup besar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian. Banyak atraksi yang bisa dilihat disini, seperti cara penangkapan ikan tradisional dan bangkai kerangka pesawat yang bisa dijadikan sebagai tempat penyelaman.
    5). Salawati
    Di Salawati para wisatawan dapat menyaksikan bunker-bunker peninggalan Perang Dunia II buatan Belanda dan Jepang (Jeffman) dan juga merupakan tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving.
    Menurut data Bappeda Raja Ampat tahun 2009, sedikitnya terdapat 13 penginapan yang beroperasi untuk mendukung pariwisata baik berupa hotel, cottage, resort maupun wisma.

12000035
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1790
6154
13350
183243
119467
12000035

IP Anda: 34.207.247.69
Waktu Server: 2021-11-30 07:25:38

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com