Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Sumatera Utara
  • Nias
  • Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Nias
  • SK Bupati no. 050/139/K/2007

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 29,000.00
  • VI
  • 01024’38,22” – 01033’38,18” LS
  • 97002'58,92” – 97025’04,86" BT
  • Merah

  • 100 27 0 0 0
  • Kabupaten Nias dengan karakteristik kepulauan yang dikelilingi oleh laut, berbatasan dengan Samudera Hindia di sebelah Barat, sebelah Utara dengan Pulau-pulau Banyak Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sebelah Timur dengan Pulau-pulau Mursala Kabupaten Tapanuli Tengah, dan sebelah Selatan dengan Kabupaten Nias Selatan.
  • images/FotoKawasan/Kabupaten Nias1.jpg
  • Kabupaten Nias yang terletak di sebelah Barat Pulau Sumatera, berjarak sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah. Pusat Pemerintahan berada di Kota Gunungsitoli yang merupakan ibukota Kabupaten Nias. Dasar hukum penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Nias adalah SK Bupati Nias No. 050/139/K/2007 yang dikeluarkan pada tanggal 29 Juni 2007. KKLD tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan berkelanjutan, wisata bahari, penelitian dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat serta pemanfaatan sumberdaya laut lainnya secara lestari.
  • KKLD Kabupaten Nias terletak pada posisi geografis 97002'58,92" - 97025'04.86" BT dan 01024'38,22" - 01033'38,18" LS memiliki luas kawasan sekitar 29.000 Ha. Kabupaten Nias dengan karakteristik kepulauan yang dikelilingi oleh laut, berbatasan dengan Samudera Hindia di sebelah barat, sebelah utara dengan Pulau-pulau Banyak Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, sebelah timur dengan Pulau-pulau Mursala Kabupaten Tapanuli Tengah, dan sebelah selatan dengan Kabupaten Nias Selatan.

  • KKLD Kabupaten Nias dapat diakses melalui jalur darat, laut maupun udara.
    1. Jalur pertama dari Jakarta menggunakan pesawat udara menuju Medan dan dilanjutkan dengan pesawat berjenis Foker 50 menuju bandar udara Binaka di Gunungsitoli (ibukota Kabupaten Nias) dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
    2. Jalur kedua, setelah sampai di Medan dapat dilanjutkan dengan menggunakan jasa travel nenuju Sibolga (ibukota Tapanuli Tengah) dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Kemudian dilanjutkan menyeberangi dengan menggunakan perahu menuju pelabuhan gunungsitoli selama kurang lebih 10 jam. Dapat juga dipersingkat menggunakan kapal cepat yang waktu tempuhnya hanya 4 jam.
    3. Jalur ketiga merupakan jalur yang jarang ditempuh, yaitu dari Jakarta menggunakan pesawat udara menuju bandara Minangkabau, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sibolga selama kuranglebih 12 jam menggunakan travel. Setelah itu menyeberang menuju pelabuhan gunungsitoli menggunakan kapal Feri.
    4. Sebelum Tahun 2007 tersedia juga jalur Kapal Laut langsung menuju Pelabuhan Gunungsitoli dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta setiap 2 minggu sekali.
    5. Untuk mencapai wilayah Kawasan Konservasi Perairan dapat diakses dengan menggunakan mobil dengan jarak tempuh antara 1-3 jam.

  • KKLD Pulau Nias yang dikelilingi laut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Rata-rata curah hujan tahunan Kabupaten Nias sekitar 3.287 mm dengan rata-rata 22 hari hujan perbulan. Curah hujan yang tergolong tinggi mengakibatkan kelembaban Kabupaten Nias tergolong tinggi dengan kisaran kelembaban 80 - 90 %. Kisaran suhu Kabupaten Nias adalah 14,50 C - 30,40C dan merupakan kisaran suhu normal pada daerah tropis. Kecepatan angin sebesar 5 - 6 knot per jam juga mendukung tingginya tingkat kelembaban Kabupaten Nias.

  • Kisaran suhu perairan di sekitar KKLD Kabupaten Nias berkisar 290C - 300C, salinitas berkisar antara 33-34 ppt, dan pH berkisar 7,8 - 8,1 dengan rerata 8,0 serta kecepatan arus relatif lemah sekitar 25 cm/detik.

  • Luas hutan mangrove di Kabupaten Nias sekitar 3.700 Ha yang perkiraan dalam kondisi baik 420 Ha dan rusak 3.280 Ha. Luas tutupan mangrove ini didukung oleh keberadaan beberapa sungai di Kecamatan Lahewa., dengan sungai yang tergolong besar adalah Sungai Lafau dengan panjang 11 km yang bermuara di Desa Moawo.
    Hasil studi kajian penetapan site COREMAP II, menyatakan bahwa luas terumbu karang di Kabupaten Nias adalah 2.204 Ha yang tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Lahewa 1.250 Ha, Kecamatan Tuhemberua 156 Ha, Kecamatan Afulu 617 Ha dan Kecamatan Sirombu 217 Ha.

  • Sektor-sektor yang berpotensi untuk dikembangkan di sekitar KKLD Kabupaten Nias meliputi sektor pertanian dan kehutanan, perkebunan, kelautan dan perikanan, peternakan, parawisata serta sektor industri. Untuk kelautan dan perikanan, Kabutapen Nias banyak memiliki wilayah pesisir dan laut yang potensial untuk pengembangan bubidaya laut maupun pantai serta wisata bahari. Jenis tanaman perkebunan yang dominan diusahakan di kabupaten ini adalah kelapa dan karet. Hal ini sesuai dengan tipotogilafidit dan kondisi iklim di wilayah ini. Sementara dari populasi ternak yang dominan dipelihara di kabupaten ini adalah babi yang merupakan komoditi perternakan yang paling potensial dikembangkan.

  • Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Nias di sekitar KKLD adalah bekerja di bidang perikanan. Namun demikian, kegiatan perikanan tersebut masih dilaksanakan secara tradisional, karena sebagian besar nelayan menggunakan perahu tanpa motor dan perahu motor tempel. Sementara alat tangkap yang digunakan sebagian besar adalah pancing, rawai tetap dan jaring hanyut.
    Kegiatan perikanan budidaya laut saat ini masih sebatas pembesaran ikan di keramba jaring apung. Benih yang ditangkap dari alam dipelihara di keramba sebelum dijual. Kegiatan budidaya ini masih tradisional. Selain itu, kerambah digunakan sebagai tempat penampungan sementara ikan hasil tangkapan, setelah jumlahnya cukup banyak baru dijual ke konsumen.

  • Meskipun armada penangkapan ikan didominasi oleh perahu tanpa motor dan motor tempel, produksi tangkapan nelayan Kabupaten Nias pada tahun 2005 mencapai 5.707 ton dengan nilai produksi mencapai Rp 17,6 milyar.

  • Pendekatakan konservasi dalam penetapan kawasan konservasi adalah berdasarkan analisa kuantitatif mengenai kondisi geografis, kondisi ekologi perairan khususnya terumbu karang, pola pemanfaatan laut dan dampak terhadap terumbu karang dan tanggapan masyarakat setempat. Dasar penentuan zonasi kawasan konservasi tetap bertujuan untuk melindungi kawasan terumbu karang yang memiliki nilai keanekaragaman yang tinggi.

  • Kabupaten Nias memiliki banyak lokasi yang potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata, salah satunya adalah Pulau Asu yang merupakan pulau terpencil yang termasuk ke dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Luas pulau ini lebih kurang 18 km ini dengan penghuni tetap sekitar 20 keluarga. Keistimewaan pulau ini adalah ombak yang mencapai 3-4 meter sehingga bagus untuk berselancar.

8617655
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
4909
6341
29300
29300
153895
8617655

IP Anda: 18.207.238.169
Waktu Server: 2019-12-05 21:46:53

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com