Data Kawasan Konservasi

Data Kawasan Konservasi

  • Nanggroe Aceh Darusalam
  • Simeuleu
  • Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pinang, Siumat dan Simanaha (PiSiSi)
  • SK Bupati No. 523.1/104/Tahun 2006; Tgl 9 -4- 2006

  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah
  • 50,000.00
  • 0
  • 96013’ – 96047’ LU
  • 2040’ – 2059’ BT
  • Merah

  • 100 41 0 7 0
  • Kawasan ini, sama dengan kawasan konservasi di wilayah Aceh lainnya, memiliki aspek budaya/adat yang sangat kuat dalam pengelolaan wilayah laut sehingga pelibatan masyarakat cukup aktif. Lembaga adat setempat bahkan telah menetapkan Hari Pantang Melaut di wilayah PiSiSi yang berisi Pantangan kegiatan melaut pada hari-hari besar dan hari Jum’at, seperti:
    1. Khanduri Adat Laot (Khanduri Naey/Khanduri Ikan)
    Khanduri laot dilaksanakan 1 (satu) tahun sekali, selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun sekali atau tergantung kesepakatan dan kesanggupan nelayan setempat, dinyatakan 3 (tiga) hari pantang melaôt pada acara khanduri laôt dihitung sejak keluar matahari pada hari khanduri hingga tenggelamnya matahari pada hari ketiga.
    2. Hari Jumat
    Hari Jumat dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan, terhitung dari jam 18.00 WIB hari Kamis sampai dengan jam 15.00 WIB pada hari Jumat.
    3. Hari Raya Idul Fitri
    Pada Hari Raya Idul Fitri dilarang melaut selama batas waktu 3 hari penuh (mulai dari hari pertama hari raya sampai hari ke 3 hari raya).
    4. Hari Raya Idul Adha
    Hari Raya Idul Adha, dilarang melaut selama Hari Raya Idul Adha 4 hari penuh (mulai dari hari pertama hari raya sampai hari ke 4 hari raya).
    5. Hari Kemerdekaan Tanggal 17
    Agustus Hari Kemerdekaan RI dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan, terhitung dari jam 06.00 WIB sampai dengan jam 18.00 WIB tanggal 17 Agustus.
    6. Tanggal 26 Desember

  • images/FotoKawasan/pulau pinang.jpg
  • Dasar hukum penetapan perairan Pulau Pinang, Siumat, dan Simanaha (Pisisi) sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) adalah SK Bupati Simuelue No. 523.1/104/SK/2006 yang dikeluarkan pada tanggal 9 April 2006. KKLD tersebut diarahkan untuk daerah perlindungan laut dan taman wisata laut/bahari. Adapun misi penetapan KKLD ini adalah sebagai daerah pelestarian, wisata, pendidikan/penelitian, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

    Setelah tahap pencadangan, telah banyak upaya pengelolaan Kawasan Konservasi PiSiSi yang telah dilaksanakan meliputi beberapa aspek kegiatan yang terdiri dari:
    a. Penataan kawasan
    Penataan kawasan PiSiSi berdasarkan pertimbangan koordinat titik batas wilayah konservasi yang dicantumkan dalam SK pencadangan tahun 2006 tidak akurat, dimana koordinat yang tertulis tidak sama dengan yang ditampilkan pada peta. Sehingga dilakukan croschek tata batas setelah dianalisis ulang.
    b. Pengembangan penelitian
    Pengembangan peelitian yang telah dilakukan meliputi monitoring terumbu karang dan survei lokasi peneluran (SPAGS=Spawning
    Aggregation Sites) lobster dan kerapu.
    c. Pengembangan kemitraan
    Pengembangan kemitraan pengelolaan Kawasan Konservasi peraian juga telah dilakukan secara intensif yang melibatkan DKP Aceh, Fauna Flora International dan Yayasan Pelagis.
    d. Konsultasi publik dan sosialisasi
    Sosialisasi kesepakatan tata batas dan zonasi PiSiSi di level masyarakat belum mendapat banyak respon positif sehingga perlu dilakukan mekanisme yang tepat untuk proses tersebut.
    e. Pengembangan partisipatif masyarakat.
    Salah satu partisipasi masyarakat yang telah berjalan di tingkat masyarakat adalah pembentukan wilayah kelola adat masyarakat Pulau Siumat.
    f. Penyusunan dokumen rencana pengelolaan
    g. Penerbitan SK Bupati tentang lembaga pengelola kawasan.

  • Pulau Simeulue dikelilingi oleh perairan, dimana sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah Utara dengan Samudera Hindia dan perairan wilayah Kabupaten Aceh Barat, sebelah Timur dengan Samudera Hindia dan perairan wilayah Kabupaten Aceh Selatan, dan sebelah Selatan dengan Samudera Hindia. Secara administratif, KKLD Pulau Pinang, Siumat, dan Simanaha terdapat di Kabupaten Simeulue, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sementara secara geografis, KKLD Pulau Simeulue dan pulau-pulau kecil disekitarnya yang terletak pada posisi geografis 96013' 96047' LU dan 2040' 2059' BT memiliki luas kawasan sekitar 50.000 Ha. Pulau Simeulue dikelilingi oleh perairan, dimana sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah utara dengan Samudera Hindia dan perairan wilayah Kabupaten Aceh Barat, sebelah timur dengan Samudera Hindia dan perairan wilayah Kabupaten Aceh Selatan, dan sebelah selatan dengan Samudera Hindia.

  • Untuk mencapai KKLD Pulau Pinang, Siumat, dan Simanaha (Pisisi), dapat ditempuh dengan dua cara :


    • Dari Medan menggunakan transportasi udara ke Bandara Lasikin-Sinabang (Ibukota Kabupaten Simeulue) dengan jadwal penerbangan 5 x 1 minggu. Sedangkan perjalanan ke KKLD dapat dicapai dengan menggunakan kapal motor dari pelabuhan Sinabang, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.


    • Dari Medan menggunakan transportasi udara ke Gunung Sitoli, Sibolga; yang dilanjutkan dengan transportasi laut ke Pelabuhan Sinabang, dengan waktu tempuh sekitar18 jam.


  • Pulau Simeulue dengan 41 pulau yang mengelilinginya beriklim tropik basah (tropical rain) dengan curah hujan rata-rata 2.828 mm/tahun dan rata-rata per bulannya adalah 236 mm. Suhu udara hampir sama dengan di daratan Sumatera yaitu antara 180C - 240C, serta kelembaban udara berkisar antara 60% - 70%. Pada bulan November-Maret, di wilayah ini biasanya terjadi musim penghujan. Sedangkan bulan Mei-Oktober akan terjadi musim kemarau

  • Pasang surut permukaan laut di perairan ini bersifat harian tunggal, kedudukan air tertinggi adalah 0,6 meter dan terendah adalah 0,5 meter. Kecepatan arus maksimum permukaan pada musim barat 0,5 m/detik menuju ke timur sampai ke tenggara. Begitu juga pada musim timur, kecepatan maksimum 0,5 m/detik. Sementara gelombang laut pada musim barat mencapai 1,0-2,0 m, dan musim timur 0,5-1,75 m. Sedangkan suhu permukaan berkisar antara 28,50C-30,00C (musim barat), dan 28,50C-31,00C (musim timur). Salinitas permukaan berkisar antara 31-33ppt, sedangkan pH 8,0-8,4, dengan kecerahan (transparansi) antara 12-22 m.

  • Ekosistem mangrove di Pulau Simeulue tersebar di Teluk Sinabang, Teluk Dalam, Teluk Sibigo dan Teluk Salang. Luas keseluruhan hutan mangrove mencapai 2.779,97 ha, yang didominasi oleh Rhizopora sp, api-api (Avicenna sp) dan Bruguiera sp. Sedangkan ekosistem padang lamun didominasi oleh Enhalus sp, Thallasia, Syrongodium, Thalosodendrum, dan Chimodecea. Jenis rumput laut yang terdapat di perairan Simeulue adalah algae hijau (Chlorophyceae), algae coklat (Phaeophyceae), dan algae merah (Rhodophyceae).
    Pulau-pulau kecil yang mengelilingi Pulau Simeulue umumnya dikelilingi oleh karang tepian (fringing reefs) dengan kedalaman 0,5-5m. Jenis-jenis karang yang ditemukan termasuk ke dalam jenis karang keras (hard coral) seperti karang batu (massive coral), karang meja (table coral), karang kipas (gorgonian), karang daun (leaf coral), dan karang jamur (mushroom coral). Terumbu karang di gugusan Pulau Simuelue pada umumnya dapat dikategorikan dalam kondisi sedang hingga baik, dengan penutupan karang hidup mencapai 50-75%.
    Jenis ikan yang ditemukan di perairan ini disusun berdasarkan kelompok-kelompok, seperti pelagis besar (tuna mata besar, madidihang, albacore, tuna sirip biru, setuhuk, layaran, cakalang, dan tenggiri); pelagis kecil (tongkol, layang, selar, lemuru, kembung, dan teri); ikan demersal (bawal, layur, kakap merah, kakap putih, kerong-kerong, gulamah, dan manyung); ikan karang (kerapu bebek, kerapu sunu, kerapu macan, kerapu lumpur, samadar, ikan kwe, dan napoleon); udang/krustacea (kepiting, rajungan, lobster, udang windu, dan udang api-api), molusca (teripang, ubur-ubur, bulu babi, cacing laut, cumi-cumi, gurita, kerang hijau, dan oyster); reptilian dan mamalia laut (lumba-lumba, penyu laut, dan ular laut).

  • Berdasarkan mata pencaharian, penduduk yang berada disekitar KKLD Pulau Pinang, Siumat, dan Simanaha (Pisisi) digolongkan menjadi petani, nelayan, pedagang, pengrajin, dan buruh. Sementara itu, penduduknya hampir semua beragama Islam, kecuali beberapa pendatang orang Cina dan pedagang tidak tetap. Suku yang tinggal di daerah ini adalah Suku Dagang, Aceh, Lanteng, Abon, Pamuncak, dan Painang.
    Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Aneuk Jamee, bahasa Devayan, Sigulai, dan Bahasa Leukon. Adapun kesenian yang berkembang di Pulau Simuelue adalah : angguk (keterampilan menggunakan kepala, tangan dan badan secara bergantian), tari andalas, nandong (kesenian berisi syair-syair yang dilantunkan dengan suara indah dan merdu serta diiringi kendang), rafai debus (atraksi kekebalan tubuh), dan tari kuala deli/tanjung katung.

  • Mata pencaharian Pulau Simeulue digerakkan oleh sektor pertanian meliputi perkebunan, tanaman pangan dan peternakan, sementara perikanan meliputi perikanan tangkap dan budidaya. Kegiatan perkebunan, baik rakyat maupun swasta umumnya adalah cengkeh, kelapa, kakao, kopi, karet dan sisanya perkebunan campuran. Sementara tanaman pangan yang dikembangkan adalah padi, dan peternakan yang dikembangkan adalah kerbau, sapi, kambing, unggas.

  • Produksi tangkapan nelayan Pulau Simeulue dan sekitarnya masih jauh di bawah standar, hal ini disebabkan oleh dominasi alat tangkap skala kecil. Pada tahun 2003, total produksi tangkapan mencapai 210,7 ton. Adapun jenis ikan yang ditangkap yaitu kerapu, tengiri, kembung, kuwe, kurisi, selar, lemuru, ekor kuning, alu-alu, cakalang, tongkol, tuna, pari, cumi-cumi, kepiting, kakap, lobster, teripang, hiu. Sementara produksi budidaya masih dilakukan di perairan darat dengan komoditas lele dan mujair yang pada tahun 2002 mencapai 4,9 ton. Dengan demikian, potensi budidaya laut belum berkembang di sekitar perairan Pulau Simeulue.
    Sementara itu, untuk kegiatan perikanan, jumlah nelayan pada tahun 2003 mencapai 8.005 orang dengan 2.088 unit perahu tanpa motor, 1.470 unit perahu motor tempel, 76 unit kapal motor 1- 5 GT, dan 15 unit kapal motor lebih dari 5 GT. Dengan demikian, hampir 90% nelayan Pulau Simeulue bersifat subsisten. Sementara luas lahan untuk kegiatan budidaya mencapai 3.084,7 Ha

  • Pendekatan konservasi dalam menetapkan Pulau Pinang, Pulau Siumat dan Pulau Simanaha sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah adalah didasarkan pada kawasan tersebut yang unik, memiliki karakteristik dengan ciri khas tertentu dan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dengan nilai estetika yang sangat menarik.

  • Wisata yang dapat dikembangkan di Pulau Simeuleu dan sekitarnya adalah wisata bahari, wisata alam, dan wisata budaya. Tempat-tempat wisata tersebut adalah :
    - Tunggu Indah Resort, merupakan obyek wisata berenang, snorkling
    - Pulau Teupah, Kecamatan Simeulue Timur, merupakan tempat peselancar karena ombaknya yang cukup besar (± 4 meter)
    - Pulau Mincu yang bersebelahan dengan P. Teupah, merupakan tempat penyu bertelur
    - Pantai Ganding, merupakan pantai pasir putih
    - Pantai Lasikin, merupakan pantai pasir putih
    - Teluk Sibigo, tempat wisata alam laut dan menyelam
    - Pantai Angkeo, Kecamatan Simeulue Tengah, merupakan pantai pasir putih
    - Goa Sembilan, Desa Sembilan Kecamatan Simeulue Barat
    - Pantai Alus-alus dengan pasir putihnya.

    Sedangkan wisata budaya yang bisa dikembangkan adalah Batu Sendi Delapan, Makam Teuku Diujung, Makam Teuku Bakuda Batu yang terletak di Salur, dan Kubu-kubu peninggalan Jepang, di Kampung Aie.

8639982
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Bulan lalu
Total
3888
6721
10609
51627
153895
8639982

IP Anda: 18.205.60.226
Waktu Server: 2019-12-09 15:46:29

 

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

Kementerian Kelautan dan Perikanan

________________________________________________________________

 

Gedung Mina Bahari III, Lantai 10

Jl. Medan Merdeka Timur, Nomor 16

Jakarta 10110, Kotak Pos 4130

Telepon : (021) 3522045, Ext. 6104,

Faksimile : (021) 3522045

Email : info.kkji@gmail.com